31 C
Kudus
Selasa, Januari 27, 2026

Diterjang Rob Bertahun-tahun, Separuh Hutan Mangrove di Tunggulsari Pati Hancur

BETANEWS.ID, PATI – Derasnya gelombang rob yang tak kunjung reda perlahan melumpuhkan benteng alami pesisir utara Pati. Sebanyak 7,5 hektare hutan mangrove di Desa Tunggulsari, Kecamatan Tayu, Pati, kini rusak parah karena tak kuat menahan amukan gelombang laut yang terus menggempur.

Padahal, sebelum tahun 2020, kawasan mangrove di desa tersebut membentang seluas 15 hektare. Namun, sejak gelombang pasang datang silih berganti setiap tahun, hutan itu perlahan menyusut dan kini tinggal setengahnya saja.

“Mangrove di Desa Tunggulsari itu dulu sampai 15 hektare. Kemudian mulai rusak pada tahun 2020 karena gelombang air pasang yang tinggi. Sekarang sekitar 7 hektare,” ujar Karnawi, Ketua Kelompok Mangrove Desa Tunggulsari, Sabtu (21/6/2025).

-Advertisement-

Baca juga: Sebulan Terjebak Banjir Rob, Warga Tunggulsari Pati Butuh Solusi Nyata

Karnawi menuturkan, air laut mulai menunjukkan ganasnya sejak enam tahun terakhir. Berbagai cara sudah ditempuh warga demi menyelamatkan mangrove. Yakni, mulai dari pemasangan patok pemecah gelombang hingga penanaman puluhan ribu bibit tiap tahun. Sayangnya, semua tak mampu membendung kerasnya alam.

“Kita sudah berusaha dengan patok pemecah gelombang, tapi tidak maksimal. Kemudian kita melakukan penanam mangrove tiap tahun sampai 50 ribu bibit lebih. Tapi karena cuaca ekstrem, maka mati kalau gelombang datang,” ungkapnya.

Tak hanya warga, kalangan akademisi pun turun tangan. Beberapa kampus, termasuk Universitas Negeri Semarang (UNNES), pernah menjalankan program mitigasi bersama Dinas Pendidikan. Sayangnya, usaha itu pun kandas di tengah gelombang yang kian buas.

“Upaya kemarin ada program dinas Pendidikan dengan UNNES  dengan membuat pemecah gelombang. Tapi rusak lagi karena gelombang tinggi,” imbuh Karnawi.

Baca juga: Banjir Tak Kunjung Surut, Warga Tunggulsari Pati Terpaksa Mengungsi ke Rumah Kerabat

Melihat kondisi yang makin kritis, Kepala Desa Tunggulsari Setyo Wahyudi angkat suara. Ia menyebut, rob bukan lagi masalah musiman, tapi ancaman nyata yang terus membayangi masa depan warganya.

“Ini bencana besar. Kejadian abrasi nyatanya sudah terjadi di Desa Tunggulsari dan beberapa desa di Kecamatan Tayu. Harapan saya, pemerintah untuk bekerja sama penanggulangan bencana,” sebutnya.

Setyo berharap, pemerintah daerah hingga pusat bisa duduk bersama merumuskan solusi jangka panjang. Usulannya mencakup pembangunan pemecah ombak permanen dan normalisasi sungai sebagai bagian dari sistem penanggulangan rob yang lebih terintegrasi.

Editor: Suwoko

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER