BETANEWS.ID, JEPARA – Tradisi Perang Obor di Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara bakal kembali digelar pada malam ini, Senin (9/6/2025) pukul 19.00 WIB.
Kepala Desa Tegalsambi, Agus Santoso mengatakan sebagai persiapan, pihaknya sudah menyiapkan 400 obor yang nantinya dimainkan oleh 40 orang pemain.
Baca Juga: DKKP Jepara Terjunkan Puluhan Anggota Pantau Pemotongan Hewan Kurban Selama Empat Hari
“Beberapa persiapan sudah kita lakukan, karena rangkainnya ini banyak ya. Yang utama kita sudah menyiapkan 400 obor dengan kurang lebih 40 pemain,” katanya pada Senin, (9/6/2025).
Pelaksanaan tradisi perang obor pada tahun ini menurutnya memang sedikit mundur dibandingkan tahun sebelumnya. Mundurnya pelaksanaan perang obor dipilih karena berdekatan dengan perayaan Idulfitri.
“Sebenarnya perang obor itu Senin pahing, di bulan apit bisa atau bulan besar bisa seperti ini. Kemarin pertimbangan panitia tidak di bulan apit, kami tahapannya perang obor ada selapan hari, ada barikan. Kalau kami ambil kemarin tanggal 5 mei, masih Idulfitri jadi banyak yang halal bihalal,” jelasnya.
Meski mundur, pelaksanaan perang obor tetap dilakukan di hari yang sama yaitu Senin Pahing.
Pada tahun ini, pelaksanaan perang obor menurutmu berbeda dengan tahun sebelumnya.
Yaitu dengan diadakannya Bazzar UMKM dan fashion show pada Minggu, (8/6/2025) kemarin.
Kegiatan tersebut bertujuan untuk mengenalkan kembali kearifan budaya serta kerajinan dari Desa Tegalsambi.
“Sebelum perang obor ada bazzar umkm dan fashion show. Ini untuk Menujukan kuliner khas Desa Tegalsambi seperti kintelan, sementara untuk fashionshow ada batik perangobor,” ujarnya.
Pelaksanaan tradisi perang obor sendiri menurutnya merupakan wujud rasa syukur warga masyarakat setempat kepada sang pencipta. Serta sebagai doa tolak balak kepada masyarakat Desa Tegalsambi.
Baca Juga: Selama Lima Bulan, Target Investasi Jepara Baru Terealisasi 29,69 Persen
Perang Obor menurutnya juga menjadi salah satu tradisi turun temurun yang diwariskan oleh para leluhur di Desa Tegalsambi.
“Perang Obor ini kan wujud rasa syukur masyarakat setelah mendapatkan anugerah, karunia dari Tuhan berupa panen yang berlimpah, semua diberikan kelancar. Kami memohon untuk diberikan keselamatan, karena perang obor itu ritual tolakbalak,” pungkasnya.
Editor: Haikal Rosyada

