31 C
Kudus
Rabu, Februari 11, 2026

Tengkulak Lebih Pilih Padi yang Dipanen dengan Mesin Modern

BETANEWS.ID, KUDUS – Suara mesin combine harvester terdengar menderu di antara hamparan padi menguning di Desa Undaan Tengah, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus. Mesin berwarna kombinasi merah dan putih itu terlihat mondar- mandir memangkas padi yang memang sudah siap dipanen. Di atas jalan samping sawah tersebut, terlihat pria mengenakan topi cokelat sedang menghitung karung yang sudah terisi padi. Pria tersebut yakni Samsi yang memilih memanen padinya dengan mesin modern.

Setelah menghitung sak yang berisi padi, Samsi sudi memberi penjelasan tentang pilihannya tersebut. Dia mengungkapkan, lebih memilih memanen padinya dengan combine karena hasilnya yang lebih bersih. Proses memanennya juga lebih cepat. Soalnya kalau tidak menggunakan mesin tersebut, padi yang dipanen terancam tidak laku dijual.

“Para bakul padi sekarang itu pilih – pilih. Yang diprioritaskan itu padi yang dipanen menggunakan combine. Kalau tidak memakai combine mereka tidak mau beli. Kalau pun mau beli, harganya sangat murah,” ungkap Samsi kepada betanews.id.

-Advertisement-

Baca juga : Dianggap Bisnis Tak Bergengsi, Kini Usaha Terasi Selok Jaya Omzetnya Capai Ratusan Juta Sebulan

Pria yang tercatat sebagai warga Undaan Tengah Gang 5, Kecamatan Undaan, Kudus itu mengatakan, alasan para bakul itu, padi yang dipanen tidak menggunakan combine hasilnya itu masih kotor. Karena padi yang berisi masih bercampur dengan sekam atau pun padi gabuk. Mereka diharuskan pintar memprediksi berat bersih padi satu karung jika padi tak berisi itu terpisah.

“Salah prediksi para bakul bisa rugi. Mereka tidak mau ambil risiko, dan lebih memilih padi yang dipanen dengan combine. Itu belum kalau padi kehujanan bisa benar gak laku dijual. Padi yang dipanen dengan combine saja kalau kehujanan para bakul enggan membeli. Apalagi yang dipanen dengan cara lain,” ungkap Samsi.

Dia mengaku pada masa tanam pertama dirinya menanam padi ketan sebanyak satu hektare. Tapi sawah miliknya itu terpisah antara sawah satu dan sawah lainnya. Sehingga proses panennya tidak bisa satu hari, karena waktu tanamnya juga selisih hari.

Baca juga : Televisi LED Paling Diburu Pembeli di Toko Barang Bekas Putra Kudus

“Ini sawah terakhir yang dipanen. Luasnya sekitar 1.300 meter persegi, hasil panennya sekitar satu ton. Kalau harga sudah jadi sama bakul satu kwintal padi dihargai Rp 550 ribu,” jelasnya.

Menurutnya, hasil panennya yang dibeli bakul nanti masih dipotong ongkos combine sebesar Rp 400 ribu untuk luas sawah satu bakon tersebut. Dirinya juga masih memberi sarapan untuk tiga operator combine serta rokok tiga bungkus.

“Meski begitu itu masih lebih hemat jika dibandingkan memanen padi dengan cara lain. Soalnya memanen padi dengan cara lain bayarnya itu per kwintal dan jumlah orang yang memanen juga banyak,” ungkap Samsi.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER