BETANEWS.ID, KUDUS – Pagi itu, sekitar area persawahan Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus tampak cukup ramai. Beberapa orang berlalu lalang menapaki jalanan setapak berukuran sekitar 1,5 meter yang membelah beberapa petak sawah nan hijau. Sepanjang jalan itu, terlihat pula beberapa bendera berwarna biru muda,kuning, putih serta instalasi-instalasi dari bambu di kanan kirinya. Sedangkan tepat di depan jalan, terdapat gapura bambu bertuliskan WKG atau Wisata Kyai Gulang.
Ketika akan masuk, pertama kali kami memarkir motor di penitipan kendaraan seberang gapura masuk. Kemudian salah satu petugas berkaos biru memberikan sebuah kartu karcis penitipan seharga Rp 2 ribu. Setelah itu, kami melangkah masuk ke area wisata tanpa ada karcis lagi. Di sana, tidak hanya pemandangan sawah dengan angin sepoi-sepoi nan sejuk yang dapat dijumpai. Akan tetapi, juga beraneka macam makanan tradisional serta barang-barang lain yang persis seperti pasar mini.
Seorang pengunjung berkaus polo pink yang sebelumnya duduk-duduk santai di salah satu instalasi bambu kemudian bercerita. Ialah Titik Mulyani (50), warga Getas yang datang bersama temannya untuk mencari sarapan di WKG. Titik mengatakan, bahwa hari itu, memang sengaja mampir ke WKG untuk membeli makanan tradisional seusai latihan senam.
Baca juga : Sambal Ontong Penyet Ida Laris Manis di Pasar Kuliner Jadul, Satu Jam 240 Porsi Terjual
“Tiap hari Minggu kan kami senam. Terus kali ini kebetulan sengaja mampir ke sini. Sarapan, cari makanan tradisional. Pepes besusul, nasi aking, buntil. Itu kan di luar jarang ada. Padahal ini sudah agak siang, tapi memang suasananya enak. Nyaman. Selain itu, harganya juga murah. Dengan kisaran harga Rp 3 ribu, punya uang mepet pun masih bisa jajan. Penjualnya juga ramah-ramah,” papar Titik kepada betanews.id, Minggu (15/3/2020).
Perempuan nyentrik berkaca mata ungu tersebut juga mengatakan, bahwa WKG yang dibuka dari pukul 05.30 sampai dengan 09.00 WIB tiap hari Minggu, biasanya ramai pengunjung pada pagi hari. Meskipun begitu, sambil makan kerupuk dan sesekali tertawa ia mengatakan, bahwa suasana sawah yang asri membuat para pengunjung seperti dirinya betah untuk berlama-lama.
Setelah bertanya kepada pengunjung, tim betanews.id selanjutnya menghampiri salah satu penjual yang belum menutup lapaknya. Murtafi’ah (46), perempuan berjilbab merah tua yang duduk lesehan di atas tikar bersama anak lelakinya, hari itu berjualan ketan srondeng, mutiara, dan tahu fantasi. Kemudian bercerita awal mula keikutsertaannya menjadi salah satu penjual.
Baca juga : Tak Harus Nunggu Ketika Rajab, Kuliner Sego Iriban Bakal Bisa Dinikmati Setiap Hari
“Jadi sejak pembukaan pada bulan November 2019 lalu, pada Minggu ke dua saya ikut berjualan. Ya jualan makanan kayak gini, ketan srondeng, mutiara, kadang tahu fantasi yang tengahnya ada telur puyuhnya. Awalnya ya tinggal daftar ke pengelola. Terus boleh jualan. Nggak ada syarat lain, pokoknya tradisional. Tapi memang para pengunjung yang banyak dicari nasi aking, tiwul. Ya tapi jualan saya tetep laku, alhamdulilah,” papar dia.
Dengan harga rata-rata Rp 3 ribu, ternyata tak cuma makanan yang dijual di sana. Beberapa pedagang menawarkan produk lain dari ikan hias sampai pakaian. Bahkan, jika pengunjung ingin berswafoto ria, di sebelah ujung jalan disediakan instalasi tempat duduk tempo dulu beserta televisi model kuno sebagai background. Tak hanya itu, permainan anak seperti odong-odong dan kereta mini yang biasanya disajikan di pasar malam pun ikut andil membuka lapak untuk hiburan anak-anak.
Editor : Kholistiono

