BETANEWS.ID, KUDUS- Siang itu, pelanggan kedai Es Cincau Hijau Si Bungsu Adem Ayem, di Jalan Besito 35, Desa Bakalankrapyak, Kecamatan Kaliwungu, Kudus terlihat datang silih berganti. Ramainya pembeli itu membuat Hanum (20) tampak cukup kewalahan melayani mereka.
Dengan cekatan, ia memasukkan mutiara, gula merah, cincau hijau, santan, dan susu kental manis. Setelah semua bahan lengkap, ia mengocok campuran tersebut hingga siap disajikan.

Setelah melayani pelanggannya, Hanum sudi berbagi cerita tentang usahanya itu. Ia menjelaskan, usaha tersebut merupakan milik keluarganya yang berasal dari Tasikmalaya, Jawa Barat. Meskipun biasanya dikelola oleh kakaknya, saat ini Hanum yang bertanggung jawab karena sang kakak sedang pulang ke Tasik.
Baca juga: Gonta-Ganti Jualan, Akhirnya Ali Mulai Temukan Kesuksesan di Crepes
“Ini usaha keluarga, biasanya kakak yang mengurus. Tapi sekarang dia pulang, jadi sementara saya yang mengelola,” jelasnya, beberapa waktu lalu.
Cincau hijau yang disajikan di kedai tersebut dibuat secara tradisional dengan bahan baku daun cincau berkualitas, tanpa campuran bahan kimia. Setiap hari, mereka memproduksi satu ember besar berukuran 20 liter untuk memenuhi permintaan pelanggannya.
“Cincau ini buatan ayah saya sendiri, bahannya sama seperti cincau pada umumnya, tanpa bahan tambahan khusus,” kata Hanum.
Dia juga membeberkan, kualitas minuman itu selalu dijaga dengan penggunaan gula aren asli tanpa campuran. Meski menggunkan bahan berkualitas, Hanum mengaku, masih menjual dengan harga yang relatif terjangkau.
“Kami menggunakan gula aren asli 100 persen, tanpa campuran. Harga es cincau kami juga terjangkau, hanya Rp3.000 untuk yang dibungkus plastik, dan Rp4.000 untuk yang menggunakan cup,” ungkapnya.
Baca juga: Gunakan Resep Turun-Temurun, Inilah 4 Penjual Minuman Legendaris di Kudus
Biasanya, Hanum mengelola kedai es cincau mulai pagi hingga sore hari. Berkat cita rasa segar dan kualitas bahan yang terjaga, Es Cincau Hijau Si Bungsu Adem Ayem berhasil meraih omzet sekitar Rp500 ribu per hari.
“Kami buka mulai pukul 8.00 WIB hingga habis, biasanya sekitar pukul 16.00 atau 17.00 WIB. Untuk omzetnya sekitar Rp500 ribu per hari, cukup bagus untuk usaha di sini,” tambahnya.
Penulis: Sania Nailul Muna, Mahasiswa Magang PBSI UMK
Editor: Ahmad Rosyidi

