Pemkab Pati Tak Perpanjang Status Tanggap Darurat Meski 72 Desa Masih Kekeringan

BETANEWS.ID, PATI – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati tidak akan memperpanjang status tanggap darurat bencana kekeringan meski masih ada 72 yang mengalami krisis air bersih. Status tanggap darurat bencana kekeringan hanya berlaku 14 hari sejak Selasa (24/9/2024) sampai Senin (7/10/2024).

Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati, Martinus Budi Prasetya, mengatakan, hingga saat ini belum ada rencana untuk memperpanjang status tanggap darurat bencana kekeringan.

”Belum ada rencana perpanjangan masa tanggap darurat bencana kekeringan,” ujar Martinus melalui pesan singkatnya, Senin (7/10/2024).

-Advertisement-

Baca juga: Krisis Air Bersih, Pemkab Pati Tingkatkan Status jadi Tanggap Darurat Kekeringan

Ia mengatakan, kebijakan ini ditempuh karena hujan mulai turun di sejumlah desa yang dilanda kekeringan. Martinus pun yakin, dalam waktu dekat bencana kekeringan berakhir berbarengan mulainya musim hujan.

”Iya, karena hujan sudah mulai turun, sehingga status tanggap darurat bencana kekeringan tidak ada rencana perpanjangan,” imbuhnya.

Meski demikian, dirinya menyampaikan, sampai saat ini memang masih tercatat ada 72 desa di sembilan kecamatan yang dilanda kekeringan. Desa-desa itu di Kecamatan Sukolilo, Kecamatan Kayen dan Kecamatan Gabus.

Selanjutnya, Kecamatan Jakenan, Kecamatan Jaken, Kecamatan Winong, Kecamatan Tambakromo, Kecamatan Pucakwangi dan Kecamatan Batangan.

”Masih ada 72 desa di 9 kecamatan yang dilanda kekeringan. Di antaranya Desa Tambahagung (Tambakromo), Desa Sundoluhur (Kecamatan Kayen) sampai Desa Lengkong (Kecamatan Batangan),” sebutnya.

Baca juga: Soal Rencana Pabrik Semen di Tambakromo, Gunretno: ‘Ini Bukan Info Lagi, Kami Dapatkan Datanya’

Martinus mengatakan, hingga saat ini warga yang terdampak kekeringan sudah mencapai 196.560 jiwa. BPBD Kabupaten Pati sudah menyalurkan bantuan air bersih sebanyak 1.180 tangki.

Untuk diketahui, kekeringan di Kabupaten Pati mulai terjadi sejak April 2024 lalu. Saat itu, Desa Tambahagung menjadi desa pertama yang terdampak. Mata air di sana mengering, sehingga masyarakat membutuhkan bantuan air bersih.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER