BETANEWS.ID, KUDUS – Ananda Yoga Saputra, sore itu terlihat cekatan mengurus magot-magot yang dibudidayakan TPS3R Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Ia terlihat memberi pakan hingga mengambil sejumlah telur magot black soldier fly (BSF), untuk selanjutnya ditetaskan.
Ia sudah menjalani aktivitas tersebut selama kurang lebih dua bulan. Meski bergelar sarjana komunikasi dari IAIN Kudus, Yoga tak memerdulikan hal tersebut. Terpenting baginya, permasalahan sampah bisa sedikit teratasi dan sekaligus bisa menghasilkan cuan.
“Jadi awalnya dari keresahan hati melihat banyaknya sampah organik di sekitar rumah, seperti jambu yang berjatuhan. Lalu berpikir untuk mengolah sampah ini tapi yang bisa menghasilkan,” ungkapnya, Rabu (25/9/2024).
Baca juga: Bisnis Magot yang Menjanjikan, Sampai Nolak-Nolak Permintaan
Dia kemudian mencari tutorial di YouTube agar sampah organik tersebut dapat menghasilkan. Ketemulah dengan budi daya magot BSF yang banyak peminat. Katanya, Magot bagus untuk pertumbuhan hewan karena mempunyai protein tinggi.
“Untuk trial error-nya saya membutuhkan dua bulan. Karena memang belum tahu habitat magot dan pakannya. Setelah itu, saya menemukan formula itu dan memulainya di sini,” ujarnya.
Ia menuturkan, produksi pertamanya bisa menghasilkan magot satu kuintal selama satu bulan. Saat ini, pihaknya bisa menghasilkan magot satu kuintal dalam sepekan.
“Permintaan pasar magot tersebut sangat bagus. Bahkan saat ini sampai nolak permintaan peternak maupun pembudidaya. Karena satu pekannya, permintaan sebenarnya dua kuintal tapi saya baru bisa mencukupi satu kuintal saja. Target saya sih, satu hari bisa hasilkan satu kuintal,” ungkapnya.
Baca juga: Jangan Remehkan Ibu Rumah Tangga, Nurul Punya Ratusan Reseller Pakaian Muslimah
Untuk harga, kata Yoga, terbilang tinggi dan sangat bagus untuk menambah penghasilan. Menurutnya, satu kilogram magot dibandrol Rp8 ribu. Permintaan satu pekan dua kuintal itu berasal dari tiga orang peternak, baik ayam, bebek, maupun mentok.
“Harapannya bisa bermitra dengan dinas terkait, supaya bisa membuat studi centre magot di Kudus. Karena sudah ada dua desa yang pengen studi banding ke sini,” harap warga Desa Papringan, Kecamatan Kaliwungu tersebut.
Editor: Ahmad Muhlisin

