BETANWEWS.ID, KUDUS – Di dalam satu kios yang terletak di lantai dasar pojok barat Pasar Bitingan, Kudus tampak seorang perempuan paruh baya sedang melayani pembeli. Di ruangan lain terlihat seorang pria sedang sibuk memasukkan gula pasir ke dalam kantong plastik. Tempat tersebut yakni Toko Anita, pengepul dan pengecer gula pasir.
Siti Anifa (59) selaku pemilik toko Anita mengungkapkan, tokonya itu menjual aneka kebutuhan dapur. Termasuk menjual gula pasir secara ecer maupun grosir. Tapi, lanjutnya harga gula pasir saat ini tak semanis rasanya. Karena dua pekan terakhir harganya mengalami kenaikan.

“Indikasi kenaikan harga gula pasir itu sejak dua minggu lalu. Dari Rp 11 ribu per kilogram perlahan naik. Hingga hari ini harganya sudah Rp 16 ribu per kilonya,” jelas Anifa kepada Betanews.id, Jumat (6/3/2020).
Anifa mengatakan, karena kenaikan harga tersebut sangat berpengaruh penjualan gula di tokonya. Yang biasanya mampu menjual lima kwintal sehari, kini turun jadi tiga kwintal sehari. Dia mengaku tidak tahu pasti penyebab kenaikan harga gula pasir. Karena menurutnya, pengiriman gula pasir dari agen masih stabil.
“Kalau stok kayaknya masih aman. Soalnya pengiriman dari agen juga masih stabil. Yang beda itu harganya. Karena dari agen, harga gula pasir sudah naik. Kami pun terpaksa menaikan harga juga. Agar tidak merugi,” ungkapnya.
Senada dengan Toko Anita, Toko Hj Suyakmi yang juga berada di Pasar Bitingan Kudus juga menjual gula pasir dengan harga Rp 16 ribu per kilogram. Harga tersebut naik sekitar Rp 4 ribu hingga Rp 5 ribu dari harga normal.
“Kalau di toko saya, itu harga gula pasir naiknya sekitar sepekan yang lalu. Sebelum naik saya menjual gula pasir Rp 11 ribu sekilo untuk para bakul dan ecer Rp 12 ribu per kilo,” ujar Nining Suyakmi pemilik toko.
Perempuan yang akrab disapa Yakmi itu pun menuturkan, akibat kenaikan harga tersebut penjualan gula pasir di tokonya mengalami penurunan. Bila dulu saat harga normal bisa menghabiskan tiga kuwintal gula pasir sehari. Tapi sekarang paling bisa menjual dua kwintal.
Yakmi juga mengaku, tidak tahu pasti sebab kenaikan harga gula pasir. Dia hanya menduga mungkin ada daerah penghasil tebu yang gagal panen atau mungkin ada pabrik gula yang gagal giling, atau gagal produksi.
Dia berharap harga gula pasir segera stabil. Agar penjualannya juga ikut stabil. Apalagi dua bulan lagi puasa. Takutnya harga belum sempat turun malah naik lagi.
“Kasihan masayarakat kecil kalau harganya naik terus. Pengeluaran jadi bertambah. Pedagang juga harus mengeluarkan modal lebih banyak. Soalnya gula pasir tidak boleh utang oleh agennya,” ungkapnya.
Editor : Kholistiono

