BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang wanita terlihat cukup sibuk menyiapkan nasi biryani pesanan pembeli di dapur rumahnya, Perumahan Megawon Indah, Jalan Kapas 4 No 23, Desa Megawon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Di atas meja berbentuk persegi panjang tertata dengan rapi beberapa kondimen yang nantinya akan digunakan untuk menghias kuliner khas Pakistan itu.
Wanita bernama Almaziyyah (44) itu sehari-hari memang berjibaku dengan kuliner yang membuat usaha dengan nama Kira Kitchen itu meroket. Tak tanggung-tanggung pelanggannya juga dari berbagai daerah sekitar Kudus.

“Nasi biryani ini salah satu menu paling laris, apalagi kalau selama ramadan bisa sampai 75 kilogram kalau hari biasa sekitar 35 kilograman. Untuk pemesanan biasanya dua hari sebelum hari H gitu,” jelasnya saat ditemui, Jumat (29/03/2024).
Baca juga: Tempatnya Boleh Sederhana, tapi Olahan Kerang di Warung Mbak Yanti Ini Rasanya Juara
Alma, sapaan akrabnya, menjelaskan, nasi biryani itu dibuat dengan bahan beras basmati. Kemudian untuk bumbunya yaitu bawang putih, bawang bombai, kapulaga, cengkeh, bunga lawang, dan rempah-rempah lain. Kemudian untuk kondimennya ada acar, selada, bawang bombai, tomat, dan lauk utama, bisa ayam, kambing, atau sapi.
“Jadi, nasi biryani yaitu nasi yang dimasak dengan kaldu ayam, kambing, atau sapi beserta rempah-rempahnya,” ucap Alma.
“Ada porsi personal hingga porsi 12 orang, atau kalau mau kustom buat 50 orang juga bisa. Untuk harga dari porsi personal itu mulai Rp36 ribu pakai ayam. Kalau porsi 50 orang itu nggak hanya nasi doang tapi ada pelengkap lain misal perkedel, telor balado, sambal goreng kentang, dengan harga Rp2,5 juta,” terangnya.
Baca juga: Warung Hidden Gem di Kudus yang Sajikan Menu Khas Pedesaan, Lokasinya di Tengah Sawah
Selama sepuluh tahun membuka usaha katering, dirinya menerima pesanan hingga daerah Demak, Jepara, Kudus, dan Pati. Tentunya, nasi biryani yang dia buat sudah melalui modifikasi sehingga menyesuaikan lidah Nusantara.
“Dulu sempat mendapat kustomer dari Pakistan asli, menurut dia sudah pas. Tapi, untuk daerah kita sendiri ternyata rempahnya terlalu kuat jadi dimodifikasi,” tambah Alma.
Editor: Ahmad Muhlisin

