Endang Tetap Produksi Mainan Gerabah Meski Anak-Anak Kini Lebih Suka Main Ponsel 

BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa calon pembeli terlihat sedang memilih mainan gerabah di Jalan Kiai Telingsing, Desa Janggalan, Kecamatan/Kabupaten Kudus. Mereka dilayani dengan ramah oleh sang penjualnya, Endang Sulistyo Rini. Meski penjualan masih sepi, ia tampak bersemangat jika ada satu atau dua orang yang mampir.  

Kondisi itu diduga karena kebanyakan anak kecil sekarang lebih tertarik dengan gawai atau telepon seluler (ponsel). Apalagi, saat ini banyak fitur menarik yang membuat anak-anak tak bisa lepas dari ponsel. 

“Sekarang sepi karena keadaan, mengingat harga bahan pokok sekarang mahal semua. Selain itu, anak kecil sekarang kebanyakan mainannya menggunakan handphone. Jadi penjualan gerabah saat ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya,” ujarnya, Rabu (28/2/2024).

-Advertisement-

Baca juga: Geliat Tradisi Dandangan Sudah Terlihat, Pedagang Gerabah Hingga Guci Mulai Bermunculan

Warga Kecamatan Mayong, Jepara itu memproduksi gerabah sejak 2004 lalu. Saat masih jaya-jayanya, Endang sempat mempunyai 10 karyawan. Namun, saat ini ia hanya membuatnya sendiri.  

“Saya produksi sendiri itu untuk dijual sendiri, karena kondisinya sekarang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Dulu pernah diambil puluhan pengepul untuk didagangkan, tapi sekarang sudah tidak. Tapi misal ada yang minat juga melayani,” ungkapnya. 

Sepinya penjualan itu membuat usahanya semakin terpuruk. Endang mengaku, sampai saat ini sebagian besar pengepul juga belum membayar gerabah yang diambil dari tempatnya. Sehingga, untuk modal dalam prosuksinya saat ini menjadi terbatas.

Baca juga: Seminggu Buka Lapak Dandangan, Penjual Gerabah Masih Sepi Pembeli

“Karena dulu pengepul yang ambil barang, bayarnya setelah barang sudah terjual. Sejak pandemi, keuangan serba kekurangan. Sehingga kemungkinan para pengepul ini tidak bisa membayar karena kondisi keuangan mereka,” beber wanita berusia 42 tahun tersebut. 

Menurutnya, uang yang belum dibayarkan puluhan pengepul itu mencapai Rp30 juta. Oleh karenanya, saat ini ia hanya melayani pengepul yang berani bayar di muka. 

“Jualan di sini sudah satu Minggu ini, tapi penjualan memang masih belum begitu ramai. Namun ratusan gerabah sudah terjual,” imbuh ibu tiga anak itu. 

Editor: Ahmad Muhlisin 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER