BETANEWS.ID, KUDUS – Titik galian fosil gajah jenis Elephas, hasil penelitian dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang bekerjasama dengan CPAS (Centre for Prehistory dan Austronesian Studies) kini sudah ditutup dengan pasir Muntilan. Rencananya, hasil temuan tersebut akan dibuat gardu pandang seperti yang sudah pernah dilakukan dengan temuan fosil gajah jenis stegodon, di Desa Terban, Kecamatan Jekulo.
Koordinator Museum Situs Purbakala Patiayam Kudus, Jamin mengatakan, hasil temuan tersebut tidak memungkinkan untuk diambil dan ditaruh di dalam museum, yang akan membuat fosil akan semakin rusak.
Baca Juga: Bisnis Menggiurkan Sewa Kost Per Jam di Kudus, Jadi Ajang Mesum Pasangan Tak Resmi
Sebab, katanya, hasil temuan fosil yang ditemukan di Situs Ngasinan, Desa Terban, Kecamatan Jekulo, hampir utuh. Sehingga untuk mengamankan fosil tersebut, sementara waktu ditutupi dengan pasir. Terlebih penutupan itu untuk mengamankan fosil dari kondisi alam maupun dari kejahilan orang.
“Sekarang kondisi ditutup lagi dan rencana mau dibuatkan bangunan, dengan perhitungan yang penting aman dari alam maupun kejahilan orang. Untuk bangunan itu tergantung dari kebijakan pimpinan,” ungkapnya, Selasa (23/1/2024).
Proses eskavasi yang dilakukan hingga menemukan fosil tersebut, membutuhkan waktu sekitar 10 hari, atau mulai dari 8-21 Januari 2024. Ia menuturkan, temuan fosil tersebut berasal dari temuan warga bernama Wagiran yang berasal dari Dukuh Kancilan, Desa Terban, Kecamatan Jekulo.
Baca Juga: 2.623 Pengawas TPS di Kudus Resmi Dilantik
“Temuan di Situs Ngasinan memang berawal dari temuan warga yang sudah dua bulan lalu. Warga lalu lapor kita, kemudian kita tindaklanjuti dengan pertimbangan posisi aman, bagus, dan kita urug lagi. Kemudian kita proses dengan melapor ke pimpinan Disbudpar di Seksi Ramuskala, supaya ditindaklanjuti oleh teman-teman ahli,” ungkap Jamin.
Ia menambahkan, proses penggalian temuan tersebut dengan layout 3×3 meter persegi. Bahkan temuan fosil itu diperkirakan bisa melebar lagi dan kondisi fosil yang ditemukan hampir utuh. Dengan kondisi waktu yang terbatas dalam penelitian tersebut, akhirnya ditutup kembali.
Editor: Haikal Rosyada

