BETANEWS.ID, KUDUS – Potongan benda berbentuk mustaka masjid ditemukan di sekitar Masjid Baitul Muttaqin, Dukuh Bongoro, Desa Purworejo, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus. Fragmen tersebut diduga merupakan bagian dari mustaka masjid lama yang diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-17.
Penemuan itu dilakukan secara tidak sengaja oleh Wisnu Bayu Murti, 29, seorang guru SMP Tahfidz Duta Aswaja. Ia menemukan puluhan pecahan tersebut saat menggali di sekitar masjid pada Jumat (11/9/2026), usai jemaah Salat Jumat.
Wisnu yang juga merupakan anggota Divisi Sejarah dan Budaya Peka Muria itu mengatakan, awalnya ia hanya penasaran dengan sejarah Masjid Baitul Muttaqin. Rasa penasaran itu muncul setelah melihat keberadaan makam tua di belakang masjid dengan nisan berbahan batu karang yang menurutnya memiliki kemiripan dengan material yang digunakan pada kompleks Menara Kudus.
“Dulu saya penasaran, di belakang masjid ada semacam makam dengan nisan berbahan karang seperti di Menara Kudus. Banyak karang-karang laut. Terus saya juga melihat batu bata yang ukurannya besar. Dari situ semakin penasaran, jangan-jangan masjid ini juga masjid lama,” kata Wisnu.
Rasa penasaran tersebut kemudian mendorongnya beberapa kali mengamati lingkungan sekitar masjid. Hingga pada Jumat lalu, ia melihat bagian kecil benda yang muncul di permukaan tanah di depan masjid.
Saat bagian tersebut digali, Wisnu menemukan pecahan dengan motif tertentu. Setelah tanah di sekitarnya diperiksa, ternyata terdapat sejumlah fragmen lain yang diduga masih berkaitan dengan benda tersebut.
Baca juga : Berkat Karomah Makam Al Habib Abubakar, Pesona Pulau Panjang Semakin Menarik Bagi Wisatawan
“Ketika saya gali, saya ambil ternyata ada motifnya. Kemudian di dekat-dekatnya ternyata ada bagian lainnya juga,” ujarnya.
Dari proses penggalian tersebut, sedikitnya ditemukan 30 pecahan. Wisnu memperkirakan jumlah tersebut baru sekitar 45 persen dari bentuk benda aslinya karena sebagian besar fragmen yang ditemukan merupakan bagian bawah.
“Fragmen yang kita temukan sebanyak 30 pecahan. Kemungkinan baru sekitar 45 persen dari bentuk aslinya, karena kebanyakan yang kita temukan bagian bawah. Bagian tengah atau atasnya belum kita temukan,” jelasnya.
Menurut Wisnu, berdasarkan bentuk dan komponennya, fragmen tersebut diduga merupakan bagian dari mustaka masjid. Beberapa pecahan bahkan tampak memiliki bagian yang saling berpasangan sehingga memungkinkan untuk disusun kembali.
Ia menduga benda tersebut pernah mengalami perbaikan pada masa lalu. Ketika masjid kemudian direnovasi secara keseluruhan, bagian-bagian lama yang rusak kemungkinan tidak lagi dirawat atau dikumpulkan secara khusus.
“Dulu mungkin sudah pernah dilakukan perbaikan. Ketika pembangunan total dilakukan, kemungkinan tidak ada yang merawat atau tidak tahu cara mengumpulkan bagian yang pecah, akhirnya ditinggalkan,” katanya.
Mengenai usia fragmen tersebut, Wisnu belum menyebutnya sebagai angka pasti. Namun, berdasarkan cerita masyarakat dan informasi yang pernah didengarnya mengenai sejarah pembangunan masjid, bangunan tersebut diduga telah berdiri sejak sekitar tahun 1600-an.
Ia menyebut, Masjid Baitul Muttaqin sebelumnya disebut memiliki prasasti terkait pembangunannya. Namun, keberadaan prasasti tersebut kini belum diketahui setelah masjid mengalami renovasi.
“Masjid itu sebenarnya ada prasasti pembangunannya. Ketika renovasi, prasastinya lupa ditaruh di mana. Wujudnya bertuliskan Arab, tetapi masyarakat yang pernah ikut membangun dulu pernah membaca tanggalnya. Seingatnya sekitar tahun 1600-an,” tuturnya.
Karena itu, Wisnu menilai temuan fragmen mustaka tersebut masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Terlebih, statusnya saat ini masih sebatas benda yang diduga berkaitan dengan cagar budaya, sehingga diperlukan kajian sejarah dan penelitian untuk memastikan usia, fungsi, serta keterkaitannya dengan Masjid Baitul Muttaqin.
Untuk sementara, fragmen hasil temuan disimpan di SMP Tahfidz Duta Aswaja agar dapat dikumpulkan dan didokumentasikan.
Wisnu bersama pihak takmir masjid berencana mengumpulkan seluruh fragmen yang ditemukan. Selain itu, benda tersebut akan dibersihkan, dirawat, didokumentasikan, dan diarsipkan sembari mencari bagian lainnya yang kemungkinan masih berada di sekitar lokasi.
Proses penyelamatan fragmen dilakukan oleh tiga orang, yakni dua guru dari SMP Tahfidz Duta Aswaja dan satu orang takmir Masjid Baitul Muttaqin.
Jika nantinya ditemukan fragmen tambahan, bagian-bagian tersebut akan dicoba disusun kembali seperti puzzle untuk mengetahui bentuk asli mustaka.
“Kalau nanti kita temukan lagi, kita coba memasangkan dan menggabungkan puzzle-puzzle yang ditemukan. Kalau sudah terkumpul, harapannya bisa dikembalikan lagi ke masjid dan masyarakat,” katanya.
Menurut Wisnu, upaya tersebut bukan semata-mata untuk menyimpan benda lama. Lebih jauh, temuan itu diharapkan dapat membuka kembali ingatan masyarakat mengenai sejarah dan perkembangan peradaban di wilayah tersebut.
“Supaya masyarakat punya ingatan kembali bahwa ternyata masjid lama dan peradaban di desa kami, di dusun kami, periodenya juga sudah lama,” imbuhnya.
Editor: Kholistiono

