BETANEWS.ID, JEPARA – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI, Komjen Pol. Eddy Hartono, menyebut sekitar 250 anak di bawah umur di Indonesia terpapar ideologi ekstremisme. Temuan tersebut diperoleh BNPT bersama Densus 88 Polri dalam upaya mencegah dan memitigasi penyebaran paham ekstremisme.
Eddy mengatakan, anak-anak tersebut berpotensi melakukan tindakan terorisme jika tidak segera dilakukan pencegahan.
“Jadi memang dua tahun terakhir ini, kami bersinergi dan berkolaborasi dengan aparat intelijen dan aparat penegak hukum, dalam hal ini Densus 88 Polri. Kami melakukan pencegahan dan mitigasi. Ada anak-anak di bawah umur yang kalau tidak dicegah, ini akan melakukan tindakan terorisme,” kata Eddy saat melakukan kunjungan ke Jepara beberapa waktu lalu.
Menurut Eddy, paparan ideologi ekstremisme terhadap anak-anak tersebut banyak terjadi melalui internet dan media sosial. Bahkan, ruang interaksi dalam permainan daring juga dapat dimanfaatkan untuk mendekati anak-anak.
Salah satu platform yang menjadi perhatian yaitu Roblox. Eddy menyebut, anak-anak yang gemar bermain Roblox dapat menjadi sasaran pendekatan atau grooming oleh pihak yang ingin menyebarkan paham ekstremisme.
“Anak-anak ini terpapar di media internet, media sosial, bahkan ada juga yang di game online. Sehingga kami dengan Komdigi mengundang salah satu platformnya, yaitu Roblox, untuk menghilangkan salah satu fiturnya,” ungkap Eddy.
Fitur yang dimaksud yaitu fitur chat, baik melalui teks maupun suara. Menurut Eddy, fitur tersebut dimanfaatkan sebagai ruang komunikasi untuk mendekati anak-anak sebelum mereka diarahkan ke lingkungan yang lebih tertutup.
Baca juga : Jadi Modus Baru, Jasa Ekspedisi di Jepara Diminta Ikut Berantas Rokok Ilegal
“Jadi mereka main game sambil berkomunikasi. Nah, itu salah satu kegiatan namanya grooming yang menghubungkan supaya nanti bisa disusupi oleh simpatisan jaringan terorisme untuk melakukan rekrutmen,” jelasnya.
Eddy melanjutkan, setelah terjalin kedekatan, mereka kemudian diarahkan masuk ke grup komunikasi lain seperti WhatsApp atau Telegram.
Tahapan tersebut menjadi bagian dari proses pendekatan sebelum anak diarahkan menuju pemahaman dan perilaku yang lebih ekstrem.
“Jadi dari mereka hobi main game di Roblox, kemudian ditarik masuk ke grup WhatsApp, Telegram, email, baru nanti masuk ke realisasi perilaku,” jelasnya.
Untuk itu, BNPT bersama sejumlah pihak, menurutnya, terus melakukan langkah pencegahan untuk mengantisipasi penyebaran ideologi ekstremisme di kalangan anak-anak. Pengawasan terhadap ruang digital dinilai penting mengingat anak-anak semakin banyak berinteraksi dan menghabiskan waktu di internet.
Eddy menegaskan, upaya pencegahan diperlukan sejak tahap awal ketika anak mulai terpapar konten atau mendapatkan pendekatan dari pihak yang berpotensi melakukan perekrutan.
Editor: Kholistiono

