BETANEWS.ID, KUDUS – Dua siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Kudus menciptakan karya bernama Kudus Holic. Karya tersebut lolos tahap pertama dalam Festival Inovasi dan Kewirausahaan Siswa Indonesia (FIKSI) yang diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas).
Kedua siswa tersebut adalah Fadel Musyaffa Akhmad (17) dan Muhammad Naufal Bahtiar Humayun (17), siswa kelas XI-7. Kudus Holic merupakan inovasi sistem pembelajaran yang memadukan unsur kebudayaan Kudus.
Kudus Holic terdiri atas beberapa bagian, di antaranya miniatur tiga dimensi budaya Kudus. Miniatur tersebut berupa susunan balok kayu yang membentuk bangunan Masjid Menara Kudus, Joglo Pencu, Museum Jenang, dan sejumlah ikon budaya lainnya.
Pada miniatur itu juga disematkan teknologi Augmented Reality (AR) budaya Kudus. Jika dipindai, pengguna dapat melihat bangunan dan budaya Kudus dalam bentuk tiga dimensi yang dilengkapi materi literasi serta audio penjelasan dalam tiga bahasa, yaitu Bahasa Jawa, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris.
Muhammad Naufal Bahtiar Humayun mengatakan, inovasi tersebut berangkat dari kegelisahan mereka melihat banyak anak yang kecanduan gawai. Selain itu, tingkat literasi budaya di kalangan generasi muda dinilai masih rendah.
“Oleh karena itu, kami membuat inovasi yang bernama Kudus Holic. Harapannya, anak-anak bisa memainkan permainan ini sambil belajar budaya dan sejarah,” ujar Naufal saat ditemui di MAN 1 Kudus, Rabu (17/6/2026).
Baca juga : Disdikpora Kudus Wajibkan Sekolah Asal Bantu Pembuatan Akun SPMB SMP
Ia menuturkan, inovasi tersebut diikutsertakan dalam ajang FIKSI yang diselenggarakan Puspresnas. Bersama rekannya, Fadel, karya tersebut berhasil lolos pada tahap pertama.
Pada tahap tersebut terdapat dua kategori, yakni pengembangan dan perencanaan. Karena produknya masih dalam tahap perencanaan, mereka mengikuti kategori perencanaan.
“Alhamdulillah, perencanaan kami lolos dan kemudian dikembangkan menjadi produk Kudus Holic ini,” katanya.
Sementara itu, Fadel Musyaffa Akhmad menambahkan, proses pembuatan Kudus Holic dimulai sejak Juni 2026. Bahan utama yang digunakan berasal dari limbah kayu agar memiliki nilai tambah.
“Di antaranya limbah kayu yang kami manfaatkan adalah kayu jati londo, pinus, dan batok kelapa. Bahan-bahan tersebut kemudian kami olah menjadi sebuah inovasi pembelajaran bernama Kudus Holic,” ujarnya.
Fadel mengungkapkan, konsep Kudus Holic dipilih karena budaya lokal di Kota Kudus sangat beragam dan kaya akan nilai sejarah. Ia optimistis inovasi tersebut dapat lolos ke tahap berikutnya dalam ajang FIKSI.
“Semoga bisa lolos ke tahap kedua dan meraih juara,” harapnya.
Pembimbing riset MAN 1 Kudus, Indra Faizatun Nisa’, mengatakan pendampingan kepada dua siswa peserta FIKSI tidak hanya berfokus pada pengembangan produk. Menurutnya, kesiapan fisik dan mental siswa juga menjadi aspek penting yang harus dipersiapkan sebelum menghadapi penilaian dewan juri.
Ia menjelaskan, ide pembuatan produk sepenuhnya berasal dari siswa, sedangkan guru pembimbing hanya berperan memberikan arahan dan masukan. Produk Kudus Holic memanfaatkan limbah kayu jati londo dan dilengkapi teknologi AR untuk mendukung pelestarian budaya sekaligus menjadi media pembelajaran yang menarik.
“Harapan kami tentu bisa lolos ke tahap final FIKSI. Kalaupun belum berhasil, setidaknya mereka sudah memahami proses dan perjuangan dalam mengembangkan sebuah produk inovatif, mulai dari ide hingga siap dipresentasikan,” ujarnya.
Editor: Kholistiono

