BETANEWS.ID, KUDUS – Di tengah genangan banjir setinggi lutut orang dewasa, sepasang kekasih tetap teguh melangkah menuju pelaminan. Irfani Bahtiar (26), warga Desa Ngemplak, Kecamatan Undaan, dan Nida Dewi Auliyani (21), warga Desa Jetiskapuan, Kecamatan Jati, Kudus, akhirnya mengikat janji suci pada Senin (19/1/2026).
Dengan perahu sederhana, rombongan pengantin pria menyusuri air yang menutup akses jalan menuju rumah mempelai perempuan. Gelombang kecil yang memantul di permukaan banjir seolah menjadi saksi bisu perjalanan cinta mereka.
Baca Juga: Wabup Bellinda Tekankan Pentingnya Trauma Healing bagi Anak Korban Banjir Kudus
“Persiapan sudah tiga bulan. Vendor juga sudah dibooking semua, tapi karena banjir akhirnya acara dibuat sederhana dulu. Alhamdulillah akad tetap bisa berjalan lancar,” ujar Irfani dengan senyum lega.
Meski perjalanan penuh tantangan, semua terbayar ketika ijab kabul terucap dengan lancar.
“Semoga di balik musibah ini ada hikmahnya,” tambah Irfani.
Nida tak kuasa menahan haru. Baginya, perjuangan ini bukan sekadar melewati banjir, melainkan bukti bahwa cinta sejati mampu bertahan dalam segala keadaan.
“Ya bisa buat cerita anak cucu nantinya,” ucapnya lirih, matanya berbinar.
Baca Juga: Begini Kronologi Bupati Sudewo Diperiksa 24 Jam di Mapolres Kudus
Resepsi besar atau bonggangan rencananya baru akan digelar setelah Lebaran, ketika kondisi kembali normal. Namun bagi pasangan muda ini, momen akad sederhana di tengah banjir sudah cukup menjadi kenangan paling indah.
Di Desa Jetiskapuan, salah satu wilayah terdampak banjir paling parah, kisah Irfani dan Nida menjadi simbol bahwa bencana tak mampu memadamkan harapan. Justru di tengah kepungan air, cinta mereka berlayar menuju masa depan.
Editor: Haikal Rosyada

