BETANEWS.ID, KUDUS – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus mulai menindaklanjuti usulan normalisasi hilir Sungai Londo yang kerap memicu genangan di lahan pertanian. Proyek normalisasi sepanjang 1,8 kilometer itu dilakukan secara gotong royong bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana, pemerintah desa di Kecamatan Undaan, serta Desa Prawoto, Kabupaten Pati.
Normalisasi ini dinilai mendesak untuk menjaga ketahanan pangan daerah serta melindungi sawah warga dari ancaman banjir, terutama saat musim penghujan.
Baca Juga: UMK Lepas 1.470 Mahasiswa dalam Program Pendampingan Kewirausahaan Semester Gasal 2025/2026
Kepala Pelaksana Harian BPBD Kudus, Eko Hari Djatmiko mengatakan, langkah tersebut merupakan tindak lanjut dari hasil survei lapangan pada Oktober lalu. Di mana pada musim tanam pertama (MT 1) lahan pertanian tergenang banjir.
“Saat itu petani sedang memasuki masa tanam pertama, dan baru menanam langsung sawahnya terendam,” katanya.
Menurut Eko, bagian hulu Sungai Londo sebelumnya sudah dinormalisasi. Oleh karena itu, penanganan di bagian hilir kini menjadi prioritas mengingat potensi banjir kiriman dari wilayah Grobogan cukup tinggi.
“Kami ingin meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim penghujan. Lahan di sana berpotensi tergenang air kiriman dari Grobogan,” jelasnya.
Sementara itu, Sekretaris BPBD Kudus, Syarif Hidayat menambahkan, pekerjaan normalisasi diperkirakan memakan waktu sekitar satu bulan. Satu unit alat berat jenis long arm telah diterjunkan untuk mempercepat pengerjaan.
“Dari hasil rapat pimpinan dengan bupati, kami diminta meningkatkan kesiapsiagaan. Normalisasi ini adalah langkah antisipasi menghadapi musim penghujan,” ungkapnya.
Baca Juga: Komunitas Investasi Kudus Berdonasi di LKSA Samsah Muhammadiyah
Saat ini, hilir Sungai Londo mengalami sedimentasi akibat penumpukan endapan tanah. Melalui normalisasi, lebar aliran sungai akan diperbesar hingga dua meter di kedua sisi untuk memperlancar arus air.
Sebelumnya, kata dia, petani di Desa Wonosoco dan Berugenjang mengeluhkan karena lahan pertanian yang baru ditanami terendam banjir akibat cuaca ekstrem serta dibukanya pintu Bendung Wilalung. Data BPBD menyebutkan, sekitar 600 hektare sawah di Kecamatan Undaan terdampak genangan dalam kejadian tersebut.
Editor: Haikal Rosyada

