BETANEWS.ID, KUDUS – Bencana besar pernah melanda Desa Jati Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus 16 tahun yang lalu. Sungai Gelis yang biasanya tenang tiba-tiba murka, sampah dan lumpur memenuhi rumah-rumah warga.
Dari peristiwa itu, Sri Setuni menemukan panggilan hidupnya. Banjir bukan sekadar bencana, namun sebuah peringatan, sampah yang dibuang sembarangan akan berbuah buruk bagi kehidupan.
Baca Juga: Kisah Frisca, Penjual Donat Kukus Lumer yang Jadi Primadona Baru di Tayu
Sejak saat itu, Setuni mulai mengumpulkan plastik bekas, terutama plastik bungkus kopi, deterjen, maupun pewangi dan mengolahnya menjadi kerajinan tangan.
Di ruang kecil bernama Seruni Handmade, Ia duduk merapikan potongan plastik, menyulapnya menjadi tas, dompet, karpet, bahkan kursi. Apa yang sebelumnya menjadi sumber bencana, dijadikannya doa pengais rezeki, sekaligus simbol perlawanan terhadap pencemaran.
Awalnya, tetangga mencibir. “Sampah kok dijadikan kerajinan?,” begitu suara yang mampir ke telinga Setuni. Namun dia tidak menyerah. Ia menempelkan spanduk di tepi sungai bertuliskan “Nek Kaline Resik Uripe Becik” yang bermakna jika sungai bersih, hidup pun baik. Kata-kata itu menjadi semacam mantra, pengingat bahwa perubahan dimulai dari kesadaran kecil.
“Saya tidak pernah patah semangat. Saya tetap mengedukasi para tetangga untuk memilah sampah dan membujuk mereka agar sudi ikut pelatihan membuat aneka kerajinan,” kisah Setuni.
Pelan-pelan, satu demi satu ibu-ibu kampung mulai tertarik. Dari bungkus kopi lahirlah tas, dari rasa penasaran lahirlah semangat baru. Ketika jumlah peserta bertambah, kebutuhan plastik pun meningkat. Maka pada 2012, Setuni bersama warga mendirikan Bank Sampah Jati Asri.
Bank Sampah Jati Asri yang dikelola oleh warga RT 03/RW 02 Desa Jati Kulon kemudian jadi binaan Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF). Pembuatan aneka kerajinan dari daur ulang sampah plastik pun terus berlanjut.
“Pada 2016 bank sampah kemudian dikelola oleh Pemerintah Desa Jati Kulon dan berubah nama menjadi Sumber Pangan Sejati. Saya tetap dipercaya jadi ketua bank sampah tersebut,” ungkapnya.
Di sana, sampah plastik dikumpulkan, diolah, dan dijadikan sumber ekonomi bagi banyak keluarga.
Sampah plastik yang tak bernilai jual di bank sampah diolah jadi berbagai kerajinan. Di antaranya, menjadi tas, gaun, karpet, dompet, aneka aksesoris, karpet hingga meja dan kursi.
“Aneka kerajinan tersebut kemudian dipasarkan melalui semua platform media sosial. Serta, sudah terjual ke hampir seluruh Indonesia,” ujarnya.
Dalam sebulan, kata Setuni, setidaknya ia membutuhkan 50 kilogram sampah plastik untuk membuat aneka kerajinan. Kebutuhan tersebut bisa lebih banyak, ketika ada pesanan.
Dari sampah, mereka menciptakan harapan, menjual karya ke berbagai penjuru Indonesia. Kudus yang sempat darurat sampah kini menemukan jalannya.
Selain untuk mengurangi sampah plastik, kegiatan yang digagasnya itu juga bisa jadi sumber ekonomi bagi para ibu-ibu yang terlibat.
Baca Juga: Kisah Dua Sahabat Penjual Jajan Tradisional di Pati, Omzet Hariannya Capai Rp500 Ribu
Ia menegaskan, akan terus berkomitmen untuk peduli terhadap lingkungan melalui pengolahan sampah.
“Adanya kreatifitas pembuatan kerajinan dari sampah plastik dan bantuan mesin insinerator dari Djarum Foundation, kini Desa Jati Kulon mampu menangani sampahnya sendiri. Apalagi, sampah organik juga diambil oleh Kudus Asik untuk diolah jadi kompos,” imbuhnya.
Editor: Haikal Rosyada

