BETANEWS.ID, KUDUS – Bupati Kudus Sam’ani Intakoris turun langsung memimpin aksi bersih-bersih saluran di Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Jumat pagi (21/11/2025). Kegiatan ini melibatkan TNI, Polri, organisasi masyarakat, relawan, serta pemerintah desa dan kecamatan setempat. Langkah tersebut dilakukan sebagai antisipasi menghadapi potensi banjir pada puncak musim hujan awal 2026.
“Kami bergerak lebih awal karena curah hujan Januari–Februari diprediksi ekstrem. Kalau saluran tidak dibersihkan, air bisa meluap dan menimbulkan banjir di luar prediksi,” ujar Sam’ani di lokasi.
Baca Juga: Relawan Destana Kudus Gelar Latihan Gabungan di Bendungan Logung
Bupati menyampaikan bahwa kondisi saluran di sejumlah titik kini berangsur membaik berkat normalisasi yang dilakukan Dinas PUPR, BBWS, dan PSDA. Ia mengapresiasi instansi yang telah bekerja menormalkan aliran sungai hingga debit air lebih tertata.
“Beberapa hari terakhir hujan deras tapi tidak sampai menimbulkan banjir. Ini menunjukkan perbaikan saluran mulai bekerja, meski tetap harus siaga. Kami meminta BPBD, Destana, serta masyarakat ikut menjaga kebersihan saluran agar upaya penanganan lebih maksimal.
Disinggung adanya normalisasi Sungai Wulan, Bupati Sam’ani berterima kasih kepada Pemerintah Pusat. Sebab, ketika Sungai Wulan dinormalisasi maka potensi banjir di Kabupaten Kudus akan sangat berkurang.
“Oleh karena itu kita gerakan untuk gotong-royong membersihkan drainase, tujuannya agar air lancar mengalir ke Sungai Wulan maupun ke kolam retensi. Sehingga tidak terjadi bencana banjir,” sebutnya
Plt Kepala Dinas PUPR Kudus, Harry Wibowo, menyebutkan bahwa pembersihan kali ini menggunakan alat excavator dari PUPR, dua dump truk milik Dinas PKPLH, pickup dari PT Pura, serta pompa air dan perlengkapan lain dari BPBD dan relawan.
“Air di saluran ini berasal dari ruko, rumah, dan perkantoran sepanjang jalan, termasuk sebagian limpasan dari kawasan PT Pura. Karena itu kami meminta PT Pura membantu melalui CSR untuk pembersihan saluran,” ujar Harry.
Ia menjelaskan, hujan pada awal November sempat membuat air hampir mencapai permukaan jalan. Situasi itu membuat Bupati memerintahkan percepatan pembersihan gorong-gorong.
“Saluran besar di kawasan itu kini hanya tersisa satu karena pembangunan jalan nasional dan terminal, membuat saluran lainnya berukuran kecil sehingga tidak mampu menampung debit hujan tinggi,” bebernya.
Sebelum normalisasi Sungai Wulan, kawasan ini merupakan kantong air. Namun kini sebagian area digunakan sebagai tempat disposal material kerukan sehingga daya tampung air berkurang.
Baca Juga: Dana Belum Cair, SPPG Dersalam Bae Hentikan Operasional MBG Sementara
“Harapan kami normalisasi lanjutan dari BBWS membuat tampungan Sungai Wulan lebih besar. Air yang sebelumnya berhenti di sini bisa langsung masuk sungai. Tapi genangan masih mungkin terjadi kalau hujan ekstrem, karena itu pembersihan seperti ini harus rutin,” tambah Harry.
Target pembersihan hari ini mencakup sekitar 60 meter untuk area crossing, serta 600–700 meter ke arah timur. Kondisi saluran di sepanjang jalur itu dipenuhi rumput, eceng gondok, endapan, hingga sampah yang selama ini menghambat aliran. (adv)
Editor: Haikal Rosyada

