BETANEWS.ID, KUDUS – Puskesmas Rejosari, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, tengah menjalani proses renovasi besar di lantai dua gedung utama. Proyek ini merupakan upaya peningkatan sarana pelayanan kesehatan bagi masyarakat di wilayah pegunungan Kudus.
Sesuai kontrak, proyek renovasi disebut menelan anggaran kurang lebih sebesar Rp1,36 miliar. Anggaran tersebut bersumber dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) 2025.
Baca Juga: Tinjau BUMDes Japan, Komisi A DPRD Kudus Pastikan Pengelolaan BUMDes Berjalan Baik
Kepala Puskesmas Rejosari, Isna Noor Khilda, mengatakan bahwa penambahan ruang di lantai dua memang sudah lama direncanakan. Selama ini, keterbatasan ruang menjadi kendala utama ketika mengadakan kegiatan atau pertemuan dengan masyarakat.
“Ruangan ini adalah tambahan yang memang sudah direncanakan sejak awal. Aula lama kami cukup sempit, kalau untuk kapasitas tamu sekitar 60 orang biasanya sudah tidak muat dan peserta sampai keluar,” jelas Isna saat ditemui di Puskesmas Rejosari, Selasa (14/10/2025).
Menurutnya, pembangunan aula baru di lantai dua menjadi prioritas agar kegiatan sosialisasi dan pertemuan kader kesehatan dapat berjalan lebih nyaman. Selain aula, beberapa ruang pelayanan juga ikut ditambahkan untuk menunjang aktivitas tenaga medis.
“Selain aula, kami juga menambah ruang arsip, ruang dokter, dan ruang pelayanan anak. Nantinya di lantai dua ini juga tersedia kamar mandi agar lebih lengkap,” lanjutnya.
Pembangunan renovasi dimulai sejak September 2025 dan ditargetkan rampung pada akhir November 2025. Proses pembangunan berlangsung selama tiga bulan dengan anggaran mencapai Rp1,36 miliar yang bersumber dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT).
Isna menjelaskan, proyek renovasi ini tidak hanya soal menambah ruang, tetapi juga bagian dari peningkatan mutu pelayanan. Sebagai puskesmas dengan fasilitas rawat inap, Puskesmas Rejosari melayani pasien dari berbagai desa di wilayah pegunungan Dawe.
“Puskesmas kami melayani rawat inap dengan 10 tempat tidur, sesuai aturan baru dari BPJS Kesehatan. Alhamdulillah, kepercayaan masyarakat terhadap layanan kami masih sangat tinggi,” ungkapnya.
Tingkat hunian pasien di Puskesmas Rejosari, atau Bed Occupancy Rate (BOR), juga tercatat cukup tinggi. Kondisi itu menjadi salah satu alasan perlunya penambahan ruang agar pelayanan tidak terbatas oleh kapasitas gedung.
“Selama ini ruang pelayanan di bawah sering penuh. Dengan adanya lantai dua baru, beberapa layanan bisa kami alihkan ke atas agar lebih nyaman dan efisien,” jelasnya.
Baca Juga: Dinas PMD Kudus Mulai Laksanakan Penilaian Posyandu 6 SPM
Selain ruang pelayanan, aula baru nantinya juga difungsikan untuk kegiatan promotif dan preventif, seperti pertemuan kader kesehatan, penyuluhan masyarakat, serta pelatihan petugas lapangan.
“Dulu kami sering kesulitan ketika mengundang kader lebih banyak karena ruangan terbatas. Sekarang, dengan aula yang lebih luas, kami bisa melibatkan lebih banyak kader untuk kegiatan penyuluhan,” katanya.
Editor: Haikal Rosyada

