Dari Naskah: Menimbang Arah Pembelajaran di Festival Teater Pelajar Kudus

Nur Choiruddin, Pekerja teater yang bekerja di MNC Media Group

Festival Teater Pelajar (FTP) Kudus selalu menjadi ruang ekspresi seni yang dinanti para siswa. Dari tahun ke tahun, formatnya berkembang. Ada masa ketika peserta diberi kebebasan penuh memilih naskah, bahkan menulis cerita mereka sendiri. Namun, pada gelaran 2024, panitia mengambil langkah berbeda: menentukan lima naskah bertema surealisme yang wajib dipilih peserta.

Lima naskah tersebut adalah: Wabah (Hanin Dawan), Kapai-Kapai (Arifin C. Noer), Liang Langit (Asa Jatmiko), Badai Sepanjang Malam (Max Arifin), dan Arwah-Arwah (W. B. Yeats-terjemahan Suyatna Anirun).

-Advertisement-

Langkah ini memunculkan diskusi hangat: lebih mendidik mana, naskah yang ditentukan panitia atau naskah bebas pilihan peserta?

Ketika panitia menentukan naskah, peserta diarahkan untuk belajar lebih fokus. Semua kelompok berangkat dari teks yang sama, sehingga titik pembeda ada pada interpretasi, gaya penyutradaraan, hingga kreativitas teknis di panggung. Ini melatih pelajar untuk mendalami teks, menemukan makna tersirat, dan menghadirkan tafsir unik.

Kelebihan lain, naskah yang dipilih panitia biasanya merupakan karya dari penulis besar, baik nasional maupun internasional. Dengan begitu, siswa diperkenalkan pada tradisi teater yang kaya, dari surealisme hingga realisme, dari sastra modern hingga klasik. Bagi guru pembina, adanya acuan jelas membuat proses bimbingan lebih terarah.

Namun, sisi lemahnya adalah ruang eksplorasi yang menyempit. Imajinasi siswa bisa terbatasi, terlebih jika pengajar menekankan kesetiaan penuh pada teks. Risiko lain, suasana kompetisi menjadi lebih teknis karena hasil antar kelompok mudah dibandingkan.

Sementara itu, kebebasan memilih naskah, atau justru menulis naskah sendiri, selalu membuka wilayah tersendiri. Banyak kelompok teater pelajar memanfaatkan ruang ini untuk mengangkat cerita rakyat, menulis kisah orisinal, atau menyentuh isu sehari-hari yang dekat dengan dunia mereka.

Dari sudut pendidikan, model ini sangat kaya. Siswa dilatih menulis, meneliti, sekaligus mengolah gagasan. Cerita yang lahir pun cenderung lebih kontekstual, relevan dengan kehidupan pelajar, dan mengandung pesan yang mudah dipahami audiens seusia mereka. Proses kreatif dari menulis hingga pentas juga memberi pengalaman utuh bagaimana sebuah karya lahir.

Namun, kelemahannya adalah kualitas naskah yang tidak selalu stabil. Beberapa naskah mungkin kuat secara ide tapi lemah dalam struktur dramatik. Penilaian pun menjadi lebih sulit karena tiap kelompok mengusung dasar cerita yang berbeda.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER