Lantas Bagaimana Asiknya?
Selain dua model di atas, ada satu jalan lain yang bisa (bisa jadi) ditempuh: misalnya, mengangkat naskah-naskah klasik, lalu mengadaptasinya sesuai realitas kekinian pelajar.
Bayangkan, “Waiting for Godot” karya Samuel Beckett dimainkan dalam konteks anak sekolah yang menunggu masa depan serba tak pasti. Atau “Lysistrata” karya Aristophanes diterjemahkan sebagai kisah pelajar putri yang melakukan “mogok” demi isu lingkungan sekolah. “Julius Caesar” bisa dibaca ulang sebagai kritik pada budaya perundungan, sementara “Hamlet” atau “Romeo dan Juliet” dapat dipentaskan sebagai kisah remaja yang dekat dengan problem keluarga dan pergaulan.
Tidak hanya teks dunia, naskah Indonesia pun punya potensi besar. Misalnya “Kisah Perlawanan Suku Naga” karya W.S. Rendra, yang bisa diadaptasi untuk bicara tentang ketidakadilan sosial dalam bahasa pelajar hari ini. Dengan cara ini, pelajar belajar menghargai karya besar, sekaligus melatih keberanian mereka untuk menafsirkan ulang sesuai zaman.
Dalam teori pendidikan teater, terutama pada level SMP dan SMA, yang lebih penting adalah proses, bukan hanya hasil. Kebebasan berkarya—baik melalui naskah orisinal maupun adaptasi klasik—menumbuhkan rasa percaya diri, keberanian bereksperimen, serta kemampuan merefleksikan realitas sosial mereka.
Namun, pengalaman menggarap naskah wajib tetap berharga. Dari situ, pelajar belajar disiplin membaca teks, mengenal tradisi sastra, dan mengasah keterampilan teknis akting maupun penyutradaraan.
Artinya, masing-masing model punya nilai didik yang saling melengkapi: naskah wajib melatih keterampilan teknis dan literasi teater, sementara naskah bebas memberi ruang eksplorasi dan kreativitas personal.
Agar fungsi pendidikan teater lebih utuh, festival semacam FTP Kudus bisa mengombinasikan kedua pendekatan. Misalnya, satu tahun dengan naskah wajib agar siswa belajar menganalisis teks sastra mapan, lalu tahun berikutnya dengan naskah bebas untuk mengasah keberanian menulis dan berimajinasi.
Pilihan ketiga, dengan adaptasi naskah klasik dunia maupun Indonesia, juga bisa menjadi eksperimen segar. Dari situ, pelajar belajar bahwa teks klasik bukan benda mati, melainkan hidup, lentur, dan bisa selalu dibaca ulang sesuai zaman.
Dengan cara demikian, Festival Teater Pelajar Kudus bukan hanya ajang kompetisi, melainkan laboratorium pembelajaran seni yang seimbang antara disiplin membaca teks, kreativitas menulis, dan keberanian mengadaptasi. Ruang tempat pelajar tidak sekadar bermain peran, melainkan juga belajar membaca realitas, lalu menafsirkannya dengan bahasa seni yang segar.
Bagaimana?
Editor: Haikal Rosyada

