
Nur Choiruddin, Pekerja teater yang bekerja di MNC Media Group
Dalam teater, musik sering dipahami sebagai elemen estetis yang memperindah suasana. Namun bagi para pekerja seni yang menekuni proses penggarapan musik secara serius, posisi musik jauh melampaui sekadar penghias. Musik adalah bahasa emosional, pengatur ritme dramatik, dan penyusun atmosfer. Tanpa musik, banyak pertunjukan kehilangan kedalaman; tanpa penggarapan musik yang serius, banyak pertunjukan kehilangan daya hidupnya.
Ironisnya, justru di banyak pementasan teater, terutama di tingkat komunitas, kampus, hingga kelompok kecil independen, musik masih dianggap elemen sampingan—sekadar tempelan.
WS Rendra dalam esai-esai estetikanya, selalu menekankan bahwa teater bekerja dengan energi. Energi itu tidak hanya berasal dari tubuh aktor, tetapi juga dari ritme dan bunyi yang melingkupi panggung. Musik, bagi Rendra, adalah “penyambung rasa”—penghubung yang mengantar penonton masuk ke dunia lakon.
Sutradara dan koreografer Sardono W. Kusumo menyerukan hal serupa. Dalam banyak kuliah seninya, ia menegaskan bahwa bunyi—baik musik, suara napas, gesekan benda, atau ambience—adalah ruang tak terlihat yang menentukan atmosfer. Musik dapat menciptakan kesunyian yang menegangkan, ruang yang muram, atau energi yang mendesak.
Peter Brook (sutradara teater legendaris asal Inggris yang dianggap sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam perkembangan teater modern dunia) dalam The Empty Space (1968) menyatakan bahwa teater modern bekerja dengan kehadiran yang paling sederhana sekaligus paling subtil: cahaya, tubuh, dan bunyi. Musik bukan hanya “ilustrasi”, tetapi alat dramaturgis yang menggerakkan makna.
Secara dramaturgis, musik dalam teater memikul sejumlah fungsi esensial yang berkontribusi langsung terhadap konstruksi makna pementasan. Pertama, musik berperan dalam membangun atmosfer dramatik melalui pemberian warna emosional yang memediasi persepsi penonton terhadap adegan. Kedua, musik mengatur ritme pementasan, khususnya dalam mengontrol fluktuasi tensi dramatik yang menjadi penopang dinamika alur. Ketiga, musik berfungsi menandai pergeseran ruang dan waktu, menghadirkan isyarat transisional yang subtil tanpa menggunakan bahasa verbal.
Dan keempat, motif musikal dapat berperan dalam pembentukan karakter, memberikan penegasan identitas melalui asosiasi bunyi yang konsisten. Terakhir, musik dapat beroperasi sebagai struktur dramatik itu sendiri—bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan kerangka emosional yang mengorganisasi pengalaman dramaturgis secara menyeluruh. Begitu kata Brook.
Sayangnya, semua potensi ini sering tidak tergarap karena musik dianggap sekadar pengisi ruang pagung yang tengah hening.
Di balik idealisme estetik, praktik lapangan menunjukkan masalah mendasar: musik sering dikerjakan paling akhir, bahkan sering hanya “diselipkan” ketika pementasan sudah hampir rampung. Banyak kelompok teater masih menempatkan musik sebagai unsur kosmetik.
Beberapa kelompok baru mulai memikirkan musik ketika latihan hampir selesai. Penata musik dipanggil mendadak, sering kali tanpa ruang dialog dengan sutradara atau penata artistik. Hasilnya hampir selalu sama: musik terasa tempelan.
Iwan Effendi (Pendiri Papermoon Puppet Theatre) dalam banyak seminar menyebut fenomena ini sebagai “kultur tempelan”. Musik datang belakangan, ditempelkan seperti perekat estetis, bukan diciptakan sebagai bagian dari struktur pementasan.
Bukan rahasia bahwa banyak pementasan hanya mengandalkan lagu-lagu populer atau instrumental yang “dirasa cocok”. Tidak ada riset soundscape, tidak ada pembacaan naskah, tidak ada eksplorasi bunyi. Padahal musik seharusnya lahir dari dunia lakon, bukan dari playlist pribadi. Akibatnya, musik gagal membangun atmosfer unik. Ia hanya jadi dekorasi.
Dalam ajaran Prof. Sardono, tubuh aktor seharusnya bergerak dalam kesadaran bunyi. Namun dalam banyak produksi, aktor berlatih tanpa musik, lalu musik baru ditambahkan saat run-through akhir. Tidak ada waktu bagi tubuh untuk “menyatu” dengan ritme bunyi. Hasilnya, aktor terlihat berjalan di garis yang berbeda dari musiknya.
Beberapa kelompok memprioritaskan latihan acting, blocking, dan penghafalan naskah, tetapi meremehkan bahwa teater adalah seni multidisiplin. Menganggap musik tidak sepenting acting adalah kesalahan konseptual yang masih sering terjadi.
Teater bukan drama radio: ia adalah pengalaman ruang, tubuh, dan bunyi. Ketika musik hanya menjadi pelengkap, sejumlah dampak muncul. Pementasan menjadi kehilangan dinamika dan tanpa musik yang terencana, ritme dramatik datar. Penonton mudah lelah, sulit masuk ke dalam cerita.
Atmosfer tidak terbangun, adegan tegang tidak terasa tegang, adegan sedih tidak benar-benar menggerakkan emosi. Makna menjadi kabur dan musik yang asal pilih sering kontradiktif dengan dramaturgi, mengacaukan pesan yang ingin disampaikan. Yang lebih parah pementasan terasa amatir, tidak peduli seberapa bagus acting-nya, musik asal-asalan membuat keseluruhan pementasan tampak tidak profesional.
Dan sering dilupkan bahwa penonton tidak mendapatkan pengalaman multisensory padahal kekuatan teater terletak pada pengalaman ruang dan bunyi yang hidup itu.
Ada kelompok yang justru memulai penciptaan dari eksplorasi bunyi. Beberapa kelompok teater kontemporer—di Indonesia maupun dunia—menggunakan musik live, improvisasi, soundscape elektronik, bahkan bunyi-bunyi dari tubuh dan objek sehari-hari.
Teater Garasi, misalnya, kerap menggabungkan musik eksperimental dengan ruang pertunjukan. Teater Koma memusatkan komposisi musik sebagai penopang dramaturgi. Praktik-praktik ini menunjukkan bahwa ketika musik digarap sejak awal, pementasan tumbuh dengan napas yang lebih kuat.
Untuk keluar dari pola “musik sebagai tempelan”, pementasan teater harus bergerak ke arah: penggarapan musik sejak tahap awal, bersama dramaturgi. Dialog intens antara sutradara, penata musik, penata gerak, dan aktor. Eksplorasi bunyi, bukan sekadar memilih lagu. Musik sebagai struktur, bukan dekorasi. Dan latihan musik dengan adegan secara bersamaan agar tubuh aktor menyatu dengan ritme.
Dengan perubahan pola pikir ini, musik akan kembali ke posisi idealnya: bukan pelengkap, tetapi roh yang menghidupkan pementasan.
Teater tidak hanya dilihat—teater juga harus didengar. Ketika musik dirancang dengan kesadaran estetis, ia tidak sekadar terdengar; ia memengaruhi tubuh, emosi, dan pikiran penonton. Ia menciptakan dunia. Teater yang “mengabaikan musik” ibarat tubuh tanpa detak. Ia bergerak, tetapi tidak benar-benar hidup.
Secara personal, saya pernah beberapa kali mengikuti proses latihan penggarapan sejumlah naskah di Keluarga Segitiga Teater (Teater Keset), saya sering melihat bahwa latihan musik hadir sebagai bagian yang tak terpisahkan dari latihan aktor. Para pemusik (nyaris) tidak pernah absen; mereka duduk, mengamati, lalu terlibat langsung dalam berbagai adegan yang tengah dibangun.
Pernah suatu kali, dalam salah satu proses penggarapan, sutradara (saat itu Zaki Zamani) menghentikan seluruh sesi latihan aktor. Latihan tersebut kemudian berubah total menjadi sesi eksplorasi musik selama lebih dari dua jam. Itu terjadi dalam dua kali latihan berturut. Aktor berhenti bergerak, namun energi ruangan justru mengental: sutradara menilai bahwa musik belum “klop”, belum menemukan nuansa dan emosi yang tepat untuk menopang adegan.
Sepanjang waktu itu, para pemusik mencoba berbagai pola ritme, warna bunyi, dan transisi emosi. Sutradara mendengarkan dengan saksama, kadang meminta pengulangan, kadang memberi arahan detail tentang rasa yang ingin dicapai.
Latihan baru dihentikan setelah “nada yang dicari” akhirnya ditemukan—nuansa, emosi, dan cara masuk musik yang dianggap pas oleh sutradara. Sesi ditutup dengan catatan teknis: bagaimana musik masuk, di momen apa, dan dengan karakter seperti apa. Materi itu kemudian menjadi pegangan penting untuk sesi latihan berikutnya, memengaruhi cara aktor membangun ritme dan dinamika permainan mereka.
Namun jujur, tak semua pentas Teater Keset berhasil dalam urusan penggarapan musik ini. Namun seringkali musik ini “menolong “ pementasan teater Keset menjadi utuh seluruh. Dan sebagai husnudzon, mari kita buktikan hal tersebut, pada pementasan Teater Keset mendatang dalam lakon “Parade Kost Pak Uger”, Kamis, 4 Desember 2025, di auditorium Universitas Muria Kudus, pukul 19.00. Semoga.
Editor: Haikal Rosyada

