BETANEWS.ID, KUDUS – Setelah sempat vakum beberapa tahun, warga Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, kembali menggelar tradisi Kirab Tujuh Gunungan, Minggu (6/7/2025). Kegiatan ini menjadi salah satu upaya pelestarian budaya lokal yang sarat dengan nilai spiritual dan penghormatan terhadap alam.
Kirab digelar pada 10 Sura dalam penanggalan Jawa, momen yang dipercaya memiliki nilai sakral. Setiap gunungan berisi hasil bumi seperti sayuran, buah, dan umbi-umbian yang disusun menyerupai gunung, kemudian diarak oleh warga setempat.
Baca Juga: Festival Lamporan Desa Soneyan Kenalkan Kesenian dan Budaya Warisan Leluhur
Direktur BUMDes Utama Karya Rahtawu, Abdul Khalim, menyebut tradisi ini merupakan simbol penghormatan terhadap leluhur yang diyakininya menjaga kawasan Pegunungan Muria. Mereka percaya, pelestarian budaya yang dilakukan akan mendatangkan ketentraman dan kemakmuran untuk masyarakat.
“Kami percaya bahwa alam dan leluhur harus dihormati. Dengan begitu, masyarakat akan mendapatkan ketentraman dan kemakmuran,” ujarnya.
Ketujuh gunung yang menjadi simbol dalam kirab yakni Gunung Iring-Iring, Gunung Pasar, Gunung Ringgit, Gunung Kelir, Puncak Songolikur, Gunung Tunggangan, dan Gunung Natasangin. Selain itu, masyarakat Rahtawu juga menyebut Gunung Abiasoi sebagai gunung spiritual yang tidak boleh dilupakan.
Tradisi ini sebelumnya pernah digelar pada tahun 2016 dengan sebutan “Gunungan Sabto Argo”, namun sempat berhenti karena berbagai faktor. Tahun ini, kirab kembali diselenggarakan dan sekaligus menjadi rangkaian dari peresmian destinasi wisata baru, Rahtawu Highland.
“Kirab ini bukan hanya tentang tradisi, tapi juga bagian dari promosi budaya dan wisata Desa Rahtawu. Harapannya bisa meningkatkan kunjungan wisatawan,” ungkapnya.
Baca Juga: Sejarah Bubur Asyura di Kudus: dari Kapal Nabi Nuh hingga Buka Luwur Sunan Kudus
Penjabat (Pj) Kepala Desa Rahtawu, Sukono, menyambut positif kegiatan ini. Ia menilai kirab tak hanya bermakna spiritual, tetapi juga memberikan dampak ekonomi dan sosial bagi masyarakat.
“Hasil bumi yang dibawa dalam kirab menjadi lambang rasa syukur atas panen yang diberikan. Tradisi ini juga mendorong kebanggaan masyarakat terhadap potensi lokal yang dimiliki,” ujarnya.
Editor: Haikal Rosyada

