BETANEWS.ID, JEPARA – Kasus meninggalnya seorang bayi perempuan asal Desa Wanusobo, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara yang meninggal 15 hari paska mendapatkan suntik imunisasi akhirnya menemukan titik terang.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jepara, Eko Cahyo Puspeno mengatakan dari hasil investigasi menyatakan bahwa penyebab meninggalnya bayi perempuan tersebut tidak berhubungan dengan suntik imunisasi yang didapatkan bayi tersebut.
Baca Juga: Tahun Depan Pemkab Jepara Kembali Ajukan Pinjaman Daerah Rp164 MÂ
Ia mengatakan proses pengambilan data saat investigasi dilakukan menyeluruh. Mulai dari pihak masyarakat, Posyandu, Puskesmas, Klinik, dan RS PKU Muhammadiyah Mayong.
Data laporan tersebut kemudian kemudian di analisis oleh Satgas Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Kabupaten Jepara, dan hasilnya dibahas bersama oleh Komite Daerah (Komda) KIPI Jawa Tengah serta Komnas KIPI.
“Kajian kausalitas hasilnya adalah koinsiden atau in konsisten. Jadi penyebabnya tidak ada hubungan langsung dengan vaksinnya atau kesalahan prosedur atau reaksi kecemasan, tapi murni ada penyakit lain yang kebetulan bersamaan setelah adanya imunisasi,” katanya melalui sambungan telepon, Selasa (29/7/2025).
Ia mengatakan penyakit lainnya tersebut sesuai dengan hasil simpulan terakhir dari RS PKU Muhammadiyah Mayong yang menangani bayi perempuan sebelum meninggal dunia.
Adapun hasil rekam medis atau diagnosa dari PKU Muhammdiyah Mayong menyatakan bahwa penyebab bayi perempuan tersebut meninggal yaitu Syok hipovolemik yang disebabkan karena dehidrasi berat akibat muntah berulang. Kemudian adanya sepsis yaitu infeksi yang sudah menyebar ke seluruh tubuh serta kejang.
“Penyakitnya sesuai dengan simpulan terakhir dari rumah sakit,” katanya.
Kemudian terkait bengkak pada tubuh bayi yang sebelumnya diduga menjadi penyebab munculnya infeksi, Eko mengatakan bahwa sesuai hasil investigasi, tidak menemukan adanya bengkak pada tubuh bayi. Sehingga dugaan tersebut menurutnya tidak benar.
“Hasil pemeriksaan Pak Fuad dan RS tidak ditemukan adanya bengkak. Imunisasi itu kan reaksinya ringan ya. Bekas suntikan bisa sembuh dengan cepat, seandainya jika ada ya, itu wajar terjadi,” katanya.
Saat melakukan investigasi, ia menambahkan bahwa
pada hari yang sama dengan bayi perempuan yang meninggal, juga terdapat bayi lain yang melakukan imunisasi. Namun dari hasil pemeriksaan, bayi tersebut dalam kondisi sehat.
“Pada hari yang sama ternyata ada satu bayi juga yang menjadi sasaran imunisasi, tetapi bayinya ini sehat. Sehingga penyebab meninggal tidak disebabkan oleh vaksin atau kesalahan prosedur,” ujarnya.
Baca Juga: Siap Ditempati Minggu Ke-Dua Agustus, Renov SR di Jepara Capai 72 PersenÂ
Terkait hasil investigasi tersebut, Eko mengatakan bahwa pihaknya belum menyampaikan kepada pihak keluarga, karena masih menunggu surat rekomendasi resmi dari tim ahli.
“Kita tidak ingin menyalahkan pihak manapun, peristiwa ini justru menjadi pembelajaran bersama,” pungkasnya.
Editor: Haikal Rosyada

