31 C
Kudus
Kamis, Februari 19, 2026

Pemkab Kudus Sediakan Alat Deteksi DBD ke Seluruh Faskes, Warga Bisa Cek Gratis

BETANEWS.ID, KUDUS – Dinas Kesehatan Kudus terus memperkuat upaya penanggulangan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan mendistribusikan alat deteksi dini Non Structural Protein 1 (NS1) ke seluruh fasilitas kesehatan (faskes) di wilayahnya. Alat ini dapat dimanfaatkan masyarakat secara gratis untuk mendeteksi dini virus dengue.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, Andini Aridewi, menjelaskan bahwa distribusi alat NS1 telah menjangkau seluruh puskesmas dan rumah sakit di Kudus sejak tahun 2024.

Baca Juga: Waspada! Kasus DBD di Kudus Capai 251, Anak-Anak Paling Rentan Terpapar

-Advertisement-

“Dengan alat NS1, bila ada warga yang mengalami gejala seperti demam berkepanjangan, ruam, mual, nyeri kepala, nyeri sendi, atau mimisan, bisa segera datang ke puskesmas atau rumah sakit untuk diperiksa. Deteksi dini ini penting agar DBD bisa segera ditangani,” ungkap Andini kepada awak meddia di @Hom Hotel Kudus belum lama ini.

Andini menambahkan, penyediaan alat NS1 ini merupakan bentuk dukungan pemerintah terhadap penanganan DBD di Kudus, yang mencakup upaya promotif, preventif, kuratif, hingga rehabilitatif.

Tak hanya alat deteksi, Dinas Kesehatan Kudus juga melakukan peningkatan kompetensi tenaga kesehatan dalam penatalaksanaan DBD. Upaya ini turut didukung oleh tim dari RSUP dr. Kariadi Semarang, termasuk dalam penyediaan alat laboratorium dan reagen pemeriksaan.

Sebagai bagian dari upaya preventif, DKK Kudus juga mengembangkan inovasi “Sekolah Bebas Nyamuk”, di mana siswa dilatih menjadi kader pemantau jentik nyamuk baik di lingkungan sekolah maupun rumah.

“Harapannya, siswa bisa menjadi agen perubahan dalam mengendalikan DBD sejak dini, khususnya dalam meningkatkan angka bebas jentik di lingkungan sekitar,” tambahnya.

Baca Juga: Sejumlah Ormas di Kudus Tertarik Ikuti Lelang Parkir

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kudus, sejak Januari hingga pekan ke-18 tahun 2025, tercatat 251 kasus DBD di Kabupaten Kudus, tanpa kasus kematian. Kasus tertinggi terjadi pada anak usia 5–14 tahun, mencapai 40 persen, disusul kelompok usia produktif 15–44 tahun.

Andini mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap DBD dengan menjaga kebersihan lingkungan, menerapkan 3M Plus, dan segera memeriksakan diri ke faskes terdekat bila mengalami gejala mencurigakan.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER