Apa Itu SLHS? Katering Calon Penyedia MBG Wajib Punya

BETANEWS.ID, KUDUS – Setelah pelaksanaan uji coba makan bergizi gratis (MBG) di Kudus, sejumlah pelaku usaha utamanya pengusaha katering, ingin urus Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).

Untuk diketahui, SLHS merupakan sertifikat keamanan pangan yang menunjukkan bahwa makanan siap saji telah memenuhi standar baku mutu dan persyaratan kesehatan. Baik dari air yang digunakan memasak maupun kebersihan tempat dapur yang digunakan masak.

Baca Juga: Cuma 34 yang Punya Serifikat, Mampukah Katering Kudus Sediakan Program MBG Tahun Depan?

-Advertisement-

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, Nuryanto menyampaikan ada banyak pelaku usaha yang ingin mengurus SLHS tersebut.

“Saat ini ada banyak pelaku usaha, utamanya usaha katering yang menanyakan alur pembuatan SLHS ini. Jadi dalam persyaratan SLHS, harus sudah mempunyai Nomor Induk Berusaha (NIB), mempunyai sertifikat pelatihan keamanan pangan, pemeriksaan Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL), dan uji laboratorium air yang dibuat masak,” ujarnya di ruang kerjanya, Selasa (8/10/2024).

Lebih lanjut Nuryanto menjelaskan, bahwa IKL merupakan pemeriksaan di dapur yang dibuat masak harus dipastikan kebersihannya. Selain itu orang-orang yang berada di sana mengutamakan kesehatan, seperti harus memakai celemek, sarung tangan, menutup mulut, dan sebagainya. Agar makanan yang dimasak tersebut dipastikan higinis.

“Kita upayakan 120 katering, agar dengan program ini juga berdampak pada kesehatan pada kualitas gizi anak. Juga berdampak pada perputaran uang, UMKM, katering kecil ini juga kita berdayakan. Agar mungkin nanti bisa mengurangi angka pengangguran dalam pelayanan dan semua itu sudah tersertifikasi dengan baik dan mendapat pengawasan dari Dinas Kesehatan,” ujarnya.

Baca Juga: Jadwal Perayaan HSN di Kudus, dari Turnamen Futsal hingga Apel di Alun-Alun

Ia menuturkan, SLHS dianggap sangatlah penting, karena dengan adanya sertifikat tersebut dapat diakui oleh masyarakat maupun konsumen yang akan mengkonsumsi makanan siap saji. Sehingga dalam pelaksanaan program tersebut nantinya akan berdampak baik bagi penyelenggara maupun dari anak-anak.

“Sehingga secara internal itu sangat bagus dan ekternalnya bagi konsumen yang menikmati makanan tidak ada dampak terburuk. Misal terjadi keracunan atau terjadi hal-hal yang sifatnya berdampak kedepannya ini kita minimalisir dengan pelatihan keamanan pangan,” jelasnya.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER