BETANEWS.ID, KUDUS – Sejumlah pegawai terlihat sedang sibuk memproduksi boneka unta di Barokah Toys, Jalan Patimura Gang 3, Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati. Mereka seperti dikejar waktu untuk memenuhi permintaan pesanan di musim haji 2024.
Owner Barokah Toys, Kusnan, mengatakan, saat ini pihaknya sedang kebanjiran boneka karakter unta. Bahkan, ia sampai kewalahan melayani permintaan ribuan pesanan untuk oleh-oleh haji. Untuk tahun ini, pihaknya mengaku mengalami peningkatan hingga 10 persen ketimbang hari biasanya.
“Boneka karakter unta saat ini memang sedang banyak diminati sejumlah toko oleh-oleh haji maupun perorangan. Kami kewalahan cukupi permintaan karena kekurangan pekerja,” bebernya, Selasa (28/5/2024).
Baca juga: Buket Kupu-Kupu Pakai Lampu di Flowerdi Florist Ini Cantik Banget
Ia menuturkan, pesanan boneka unta itu datang dari berbagai daerah, seperti eks Karesidenan Pati, Semarang, Jakarta, Kalimantan, Medan, Samarinda, dan Lampung. Setidaknya dalam sebulan, kurang lebih ada seribu pesanan yang datang.
“Kalau mulai ramainya permintaan ini sudah sejak lima bulan lalu. Sampai saat ini kami masih produksi, menyelesaikan pesanan yang memang belum selesai. Untuk ramainya kemungkinan sampai Juni masih ada permintaan, mengingat saat ini, jemaah haji mulai berangkat ke tanah suci,” tuturnya.
Selain boneka unta, pihaknya juga menerima pesanan tempat tisu, bantal unta, dompet, dan gantungan kunci unta. Harganya bervariasi mulai dari Rp15 ribu hingga Rp50 ribu.
Baca juga: Sarung Batik Rekso Manah dan Dlimo Moncer Jadi Primadona di Sarung Al Hazmi
“Kalau untuk jumlah produksi harian itu 50-100 pcs, tergantung dari kesulitan karakter dan jenis produknya. Sejauh ini paling banyak pesanan adalah boneka unta kecil,” ungkap warga Desa Loram Wetan RT 2 RW 3, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus tersebut.
Setiap harinya, ia bisa menerima pesanan pada jam buka dari pukul 8.00-16.00 WIB.
“Jadi untuk produk kami lebih mengedepankan kualitas. Bahan baku yang kami gunakan juga Standar Nasional Indonesia (SNI), sehingga untuk produk tidak memiliki kesamaan dengan produksi lainnya,” imbuhnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

