31 C
Kudus
Kamis, Juli 18, 2024

Pasien TBC di Kudus Dapat Bantuan Rp600 Ribu Tiap Bulan Selama Dua Tahun

BETANEWS.ID, KUDUS – Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), secara Global Tuberculosis (TBC), Indonesia ditetapkan sebagai negara dengan kasus TBC tertinggi kedua di dunia. Sementera di Kudus, kasus TBC juga terus mengalami peningkatan. Hal itu diungkapkan oleh Abdul Ghofur, Staf Program SSR Mentari Sehat Indonesia Kabupaten Kudus, Senin (24/6/2024).

Ghofur begitu ia akrab disapa, menjelaskan bahwa pasien TBC dibagi menjadi dua kategori, yakni Sensitif Obat (SO) dan Resisten Obat (RO). Pasien SO menjalani pengobatan selama enam bulan, sedangkan pasien RO membutuhkan pengobatan selama dua tahun.

Baca Juga: PPDB di SMPN 3 Kudus Sukses, Hampir Semua Jalur Terpenuhi

-Advertisement-

Selain mendapatkan pengobatan gratis, pasien RO juga menerima bantuan sebesar Rp600 ribu per bulan. Bantuan tersebut disalurkan oleh The Global Fund melalui Mentari Sehat Indonesia (MSI).

“Bantuan Rp600 ribu per bulan diberikan kepada pasien TBC RO yang terkonfirmasi melalui pemeriksaan dahak. Penyaluran bantuan dilakukan melalui rekening bank dan pasien akan didampingi oleh komunitas MSI hingga mendapatkan bantuan tersebut,” ujar Ghofur.

Resistensi obat terjadi ketika mikroorganisme penyebab penyakit seperti bakteri dan virus mengalami perubahan dan tidak lagi dapat dibunuh oleh obat yang biasa digunakan. Hal ini membuat penyakit infeksi semakin sulit diobati, penularannya meningkat, dan angka kematian pun bertambah.

“Jika pasien SO putus obat, bakteri yang tidak mempan terhadap obat dapat berkembang menjadi RO. Pasien yang tertular dari penderita RO langsung akan menjadi RO karena bakteri yang ditularkan sudah resisten. Di Kudus, terdapat sekitar 70 pasien TBC RO,” bebernya.

Pemeriksaan TBC dapat dilakukan di puskesmas secara gratis, termasuk obat-obatannya. Selain itu, dari komunitas MSI Kudus juga bersedia mendampingi. Bahkan, Ghofur menagkau jika mereka bersedia mendatangi rumah pasien untuk mengambil sampel dahak untuk dilakukan pemeriksaan.

Gejala TBC yang perlu diwaspadai di antaranya, batuk yang berlangsung minimal dua pekan, demam, dan berkeringat di malam hari tanpa beraktivitas. Ia menegaskan, bahwa pemeriksaan TBC sangat penting untuk mendeteksi penyakit sejak dini.

Meski proses pemeriksaan dan pengobatan gratis serta mendapat bantuan uang bagi pasien TBC RO, namun masyarakat Kudus masih banyak yang enggan memeriksakan diri. Menurut Ghofur, masyarakat Kudus masih merasa takut akan diskriminasi jika positif TBC.

Baca Juga: Satu-satunya Penyedia Kelas Khusus Olahraga, SMPN 3 Kudus Diminati Atlet Cilik

“Hal ini seringkali menjadi hambatan bagi pasien TBC untuk mencari pengobatan. Karena penyakit ini sering dianggap sebagai penyakit orang melarat, karena disebabkan oleh kebersihan yang buruk dan sistem imun yang lemah. Meskipun mayoritas kasus memang ditemukan pada kalangan menengah ke bawah, TBC juga banyak ditemukan pada kalangan menengah ke atas,” ungkap warga Desa Tumpangkrasak, Jati, Kudus itu.

Selain pengobatan gratis, ada juga program Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT). TPT ditujukan bagi individu yang pernah kontak dengan pasien TBC namun tidak terpapar. Sayangnya, banyak yang menolak untuk menjalani terapi pencegahan karena merasa sehat.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

42,000FansSuka
13,322PengikutMengikuti
30,973PengikutMengikuti
141,000PelangganBerlangganan

TERPOPULER