BETANEWS.ID, JEPARA – Seorang bapak dan anak laki-laki berusia 8 tahun menjadi manusia gua hidup di dalam gua yang berada di Kelurahan Ujungbatu, Kecamatan/Kabupaten Jepara, tepatnya di Kawasan Makam Umum Ujungbatu.
Gua tersebut berada di bawah tebing setinggi 15 meter dengan ukuran mulut gua sekitar lima meter. Dari kejauhan, mulut gua tertutup tumbuhan yang menjuntai dari atas tebing.
Baca Juga: Kantongi Rekom PAN dan NasDem, Wiwit Masih Butuh Satu Kursi untuk Maju Pilkada Jepara
Lokasi gua tersebut sebenarnya juga tidak terlalu jauh dari perkampungan. Jaraknya hanya sekitar 500 meter dari perkampungan di dekat Stadion Gelora Bumi Kartini (GBK) Jepara.
Seorang bapak tersebut bernama Guntur (48). Ia merupakan warga Desa Ujungsemi, Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak. Ia bercerita jika sebenarnya ia sudah hidup menggelandang selama dua tahun di Jepara. Dengan berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Sebelumnya ia juga pernah tidur di area makam. Mulai dari makam yang berada di Desa Teluk Awur, Kecamatan Tahunan sampai dengan makam di Desa Tanjung, Kecamatan Pakis Aji. Ia juga pernah tinggal di dekat area Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Desa Bandengan.
“Sebenarnya saya sudah gelandang di Jepara selama dua tahun, kalau disini (di gua) baru dua minggu, tapi ndelalahe malah mpun rame,” ujarnya sembari tersenyum saat ditemui di kawasan goa, Kelurahan Ujungbatu, Kamis (6/6/2024).
Sebelum tinggal di gua, ia tidur di gudang rongsokan yang lokasinya hanya 20 meter dari gua. Ia mengaku tidak sengaja menemukan gua tersebut saat berjalan-jalan ke belakang gudang. Ia kemudian lebih memilih tinggal di dalam gua itu karena tempatnya sejuk dan jauh dari keramaian. Di sisi lain, anaknya juga senang tinggal di sana.
“Enak di sini. Hotel alami ini. Kalau dikasih lilin, suasananya seperti hotel alami,” katanya.
Selama tinggal di gua, ia makan dengan seadanya. Ia mendapatkan uang dari menjual kangkung di taman rusa Pendapa Kabupaten Jepara, menjual gambar Saridin, dan menjual mainan anak dari bambu.
Baca Juga: Ditarget Rp5,7 M, Realisasi PAD Pariwisata di Jepara Baru Rp2,1 M
Pagi tadi ia bersama anaknya dijemput oleh jajaran Polsek Kota Jepara dan Dinas Sosial Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinsospermades). Sebenarnya ia ditawari untuk tinggal di panti sosial. Namun tawaran itu ia tolak karena anaknya penyandang disabilitas hiperaktif.
“Saya sudah pernah di panti sosial. Tapi tidak nyaman. Karena ruangannya tertutup. Saya lebih suka di alam terbuka,” katanya.
Editor: Haikal Rosyada

