BETANEWS.ID, KUDUS – Sejumlah tim identifikasi dari Museum Unit Manyarejo Sangiran tampak serius mengidentifikasi temuan fosil di Museum Situs Purbakala Patiayam, Selasa (28/5/2024). Mereka terlihat berbagi tugas, ada yang mendeskripsikan objek, memasukan database, dokumentasi, dan ada juga yang mengidentifikasi temuan fosil purba tersebut.
Ketua Inventarisasi Fosil, yang juga sebagai Kepala Unit Museum Manyarejo Sangiran, Duwiningsih mengatakan, kegiatan inventarisasi tersebut dilakukan mulai Senin-Kamis (27-30/5/2024). Pihaknya secara resmi dimintai bantuan dari pihak dinas terkait untuk melakukan inventarisasi fosil, setelah dilakukan konservasi fosil sebelumnya.

“Jadi dari pihak dinas terkait meminta bantuan untuk menginventarisasi fosil purba di Museum Situs Purbakala Patiayam ini. Ada enam orang yang memang ahli dalam inventarisasi, melakukan tugasnya masing-masing. Dua orang merupakan tim ahli identifikasi dan empat lainnya pendamping” bebernya.
Baca Juga: Tak Dapat Anggaran, Omah UMKM Kudus Terancam Mangkrak
Ia menjelaskan, sejauh ini setidaknya sudah ada 37 fosil purba yang mereka identifikasi. Fosil yang diinvestarisasi itu, merupakan fosil temuan di Bukit Patiayam. Menurutnya, sejumlah fosil itu pernah hidup di tiga lingkungan, yakni laut, rawa, dan darat.
“Kalau konservasi kemarin ada sebanyak 35 fosil, tapi saat ini ada 38 fosil. Karena ada fosil berupa kerang yang berjumlah dari satu fosil. Jadi kerang tersebut ada empat individu, sehingga kami pisahkan,” ujarnya saat ditemui di ruang Laboratorium Museum Situs Purbakala Patiayam.
Dari puluhan fosil purba tersebut, katanya, ada beberapa spesies. Di antaranya meliputi, banteng, kerbau, hiu, buaya, kelompok aves (burung), gajah, rusa, badak purba, siput dan kerang laut.
Ia mengaku, temuan di Bukit Patiayam hampir sama dengan temuan yang ada di Museum Sangiran. Dimana temuan kebanyakan dari bovidae, cervidae, dan gajah purba.
Dalam melakukan inventarisasi, pihaknya menuturkan, tahapannya mulai dari analisis fosil purba, untuk mengetahui sejarah, mengetahui lingkungan hidupnya, hingga mendiskripsikan suatu fosil yang nantinya dapat memudahkan temuan fosil tersebut. Sehingga apabila akan didisplay, bisa memberikan edukasi terhadap pengunjung secara jelas.
Baca Juga: Penantian 38 Tahun, Seorang Kuli Angkut di Kudus Akhirnya Bisa Naik Haji
“Untuk umur, secara identifikasi lapisan tanahnya pada saat fosil ditemukan akan diketahui secara spesifik. Kira-kira kalau di sini fosilnya berusi ribuan hingga jutaan tahun lalu,” tuturnya.
Ia mengaku, dalam melakukan inventarisasi fosil purba, pihaknya sedkitnya menemui kesulitan. Hal itu karena temuan fosil tidak ada informasi secara spesifik yang menggambarkan akan suata temuan fosil tersebut. Selain itu temuan fosil dari masyarakat terputus informasinya.
“Satu fosil membutuhkan waktu bervariasi dalam indentifikasi nya. Sebab bentuk fragmen berupa potongan akan memakan waktu lebih lama dibandingkan dengan fragmen utuh. Kesulitan mengidentifikasi bagian tubuh sebelah mana, milik siapa,” jelasnya. (adv)
Editor: Haikal Rosyada

