BETANEWS.ID, KUDUS – Iskan masih semangat bekerja sebagai kuli angkut meski di usianya menginjak 61 tahun. Warga Desa Ngembal Kulon RT 4 RW 4, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus tersebut merasa bersyukur bisa berangkat haji tahun ini setelah penantiannya 38 tahun silam.
Saat ditemui, Iskan mengatakan, keinginannya untuk pergi ke tanah suci dan memenuhi panggilan dari Tuhan ke Baitullah itu sejak 1986, setelah menikah dengan istrinya. Tekad kuat dan kerja kerasnya, mampu mewujudkan impian yang sudah puluhan tahun tersebut.
Baca Juga: Kuli Angkut Naik Haji, Kisah Iskan Wujudkan Impian Lewat Tabungan Kaleng
Meski sebagai kuli angkut, tak membuat Iskan patah arang untuk menatap tujuannya berangkat haji. Dengan tabungan uang pecahan yang ia sisihkan setiap hari dari hasil pendapatan sebagai kuli angkut, berhasil terkumpul uang puluhan juta. Sehingga hal itu, ia dapat mendaftar haji pada tahun 2012.
“Jadi untuk tabungan saya mulai dari tahun 2000 sampai 2010 lalu. Setiap kali mendapat penghasilan saya sisihkan mulai dari Rp2.000, Rp5.000, Rp10.000, hingga Rp20.000, tergantung pendapatan sehari-hari,” bebernya, Senin (27/5/2024).
Ia menjelaskan, dalam penghasilan yang ia dapatkan dari kuli angkut itu, menurutnya tak menentu. Mulai dari Rp 30-50 ribu setiap harinya. Sehingga untuk tabungannya juga ia sisihkan tak menentu. Di samping itu, uang tersebut juga untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah anak.
“Kalau pekerjaan itu sebagai kuli angkut genteng, bata, pasir, balok kayu, di area desa sini saja. Jadi untuk pendapatan memang tidak tentu,” ungkapnya.
Sejak 2010, katanya, tabungannya ia buka dan terkumpul sebanyak Rp 40 juta. Sehingga uang tabungannya itu tak bisa dibuat daftar untuk dua orang dengan istrinya bernama Muntamah (58). Lalu, Iskan mulai nabung kembali, hingga pada 2012 bisa terkumpul Rp 50 juta, untuk daftar haji dengan istrinya.
“Tahun 2012 mulai daftar haji, Alhamdulillah langsung dapat nomor kursi. Sebenarnya kalau tidak ada covid bisa berangkat 2021. Tapi karena ada kendala itu baru bisa berangkat tahun ini,” tuturnya.
Baca Juga: Masuki Kemarau, PT Pura Latih 150 Anggota Ormas Padamkan Kebakaran
Ia merasa bersyukur, karena bisa berangkat dan dapat menunaikan rukun Islam ke lima tersebut. Sementara ia juga menyebut, alasan menabung di kaleng karena pihaknya hanya bisa mengumpulkan uang berupa pecahan.
“Alasan menabung di kaleng, karena saya tidak berani menabung di Bank. Sebab kalau di bank nabungnya kan banyak, kalau sedikit-sedikit masukin bank kan malu, jadi saya tabung di kaleng. Alhamdulillah tidak ada masalah dan tidak ada yang ganggu,” ujarnya.
Editor: Haikal Rosyada

