BETANEWS.ID, KUDUS – Pari wali murid memprotes hasil lomba tari Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Kudus karena dianggap tidak adil.
Namun, menurut Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan Dasar, Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kudus sekaligus Ketua Panitia Lomba FLS2N, Anggun Nugroho, para juri sudah memberikan nilai secara objektif. Bahkan, dalam penilaian itu, juri tidak tahu nama dan asal sekolah peserta, karena sisetem penjurian hanya menggunakan nomor peserta.
Misal ada perbedaan angka penilaian, menurutnya, hal tersebut adalah kewenangan dewan juri. Namun, ia memastikan tak ada intervensi terhadap penilaian dewan juri.
Baca juga: Pemkab Kudus Gelontorkan Rp44,4 Miliar untuk Tunjangan Guru Swasta
“Dewan juri itu punya penilaian dan kriteria-kriteria tertentu untuk menentukan juara satu, dua, dan tiga. Dan keputusan juri bersifat final,” tegasnya saat ditemui di kantornya, Rabu (8/5/2024).
Dia menuturkan, dewan juri pada lomba tari FLS2N Kabupaten Kudus tingkat SD antara lain, guru SMP 1 Kudus, guru SMP 1 Mayong, dan guru SMP 1 Bae. Ketiga juri semuanya adalah guru seni dan budaya.
“Pada saat penentuan juri itu sudah mempertimbangkan agar tidak ada conflict of interest (konflik kepentingan) di antara juri ini terhadap penilaian kepada siswa,” jelasnya.
Anggun mengungkapkan, dalam lomba tari FLS2N tingkat SD itu, juara 1 adalah SD 2 Wergu Wetan, juara 2 SD Muhammadiyah 1 Kudus, dan juara 3 SD 1 Barongan.
“Juara satu dan dua akan mewakili Kabupaten Kudus ke ajang FLS2N tingkat Jawa Tengah. Nah, yang protes itu wali murid dari SD 1 Barongan yang juara 3,” bebernya.
Baca juga: Kunjungi Sekolah Vokasi di Kudus, DWP Kemendikbud Dukung Peningkatan Kualitas
Disinggung apakah dengan adanya protes tersebut lomba akan diulang, Anggun menuturkan, bahwa hal tersebut tak mungkin dilakukan. Selain tak terbukti adanya kecurangan, mengulang lomba akan menjadikan lomba jadi rancu.
“Apabila kita ulang lomba tersebut, khawatirnya cabang lomba lain nanti juga protes dan minta untuk diulang juga. Oleh karena itu, kita tidak mungkin mengulang lomba,” tandasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

