Penjualan Sarung Al Hazmi Meningkat Hingga 40 Persen Jelang Lebaran

BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa pembeli tampak sedang asyik memilih sarung batik di tempat penjualan Sarung Al Hazmi, Kelurahan Purwosari RT 1 RW 1, Kecamatan/Kabupaten Kudus. Tampak juga beberapa karyawan di sana melayani pembeli yang silih berganti berdatangan.

Owner Sarung Al Hazmi, Budi Wicaksono mengatakan, pada momen Ramadan dan lebaran, produksi maupun permintaan sarung Al Hazmi meningkat 10 kali lipat, jika dibandingkan dengan hari biasa. Kemudian jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, penjualan meningkat antara 30-40 persen.

Baca Juga: Penjualan Telur Ayam di Pasar Bitingan Turun 40 Persen Jelang Lebaran

-Advertisement-

“Peningkatan bisa 10 kali lipat dibandingkan dengan hari biasanya. Tapi kalau dibandingkan dengan tahun lalu, ada peningkatan tapi tidak terlalu signifikan, antara 30-40 persen,” bebernya saat ditemui, Sabtu (6/4/2024).

Ia menuturkan, setiap tahun pada momen lebaran, penjualan Sarung Al Hazmi selalu meningkat, walau tidak terlalu signifikan. Di momen Ramadhan ini, pihaknya meluncurkan beberapa motif yang menarik. Di antaranya meliputi, seruni, katmocondro, pisan Bali, satryotomo, reksomanah, delimo moncer, rujak sente, Sido asih, Kawung, wuwungan, dan lainnya.

“Meski ada motif yang khusus dikeluarkan di momen Ramadhan ini, motif lama juga banyak diminati. Jadi untuk semua motif hampir semua laku,” ujar pria berusia 41 tahun tersebut.

Ia menuturkan, peningkatan produksi sarung batik hand print hingga penjualannya sudah ia rasakan sejak dua bulan sebelum Ramadan. Peningkatan secara drastis sangat dirasakan di bulan Ramadhan hingga menjelang Hari Raya Idulfitri 2024.

“Peningkatan produksi maupun penjualan sudah terasa sejak bulan Rajab, begitupun ramainya pembeli. Untuk pemasaran kita lakukan dengan dua pilihan yaitu secara offline dan online,” tuturnya.

Sejauh ini, katanya, penjualan Sarung Al Hazmi setidaknya bisa menjual hingga 10.000 sarung. Sementara untuk pembeli dari berbagai daerah, meliputi, Kudus, Demak, Pati, Jepara, Grobogan, Semarang, Jawa Timur, Jawa Barat, Sumatra, Lampung, NTB, Kalimantan, Bali, dan sebagainya.

“Paling banyak tetap penjulan secara offline. Karena kami juga mengandalkan agen, reseller, dan dropsipper, untuk memperkuat pangsa pasar. Untuk harga mulai Rp110 ribu hingga Rp400 ribu, tergantung motif dan juga bahan,” jelasnya.

Ia mengaku, dengan peningkatan hingga 40 persen dibandingkan tahun lalu, setiap harinya Sarung Al Hazmi setidaknya bisa memproduksi hingga 450 pcs. Terlebih untuk bulan ramadhan, produksi sampai lembur hingga larut malam, untuk melayani permintaan pesanan.

Baca Juga: Banyak Perda Belum Ada Perbupnya, Masan Soroti Lambannya Kinerja Pemkab Kudus

Salah satu pembeli, Mamut mengaku, baru pertama kali membeli sarung di sana. Ia tertarik karena motif yang ia lihat saat dipasarkan di media sosial. Mengetahui kalau itu produk Kudus, pihaknya kemudian kelokasi langsung.

“Jadi alasan saya tertarik karena motif terlihat bagus-bagus. Keduanya karena memang harganya masih terjangkau,” imbuhnya.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER