31 C
Kudus
Selasa, Januari 27, 2026

Korban Meninggal Sudah 20, Upaya Pencegahan DBD di Jepara Kurang Optimal

BETANEWS.ID, JEPARA – Sebelumnya, jumlah pasien meninggal akibat DBD kini sudah mencapai 20 korban. Hal tersebut terasa wajar lantaran upaya pencegahan DBD di Kota Ukir kurang optimal.

Pj Bupati Jepara, Edy Supriyanta mengatakan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara serentak sebagai upaya pencegahan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Jepara belum berjalan optimal.

Baca Juga: Baru Dua Bulan, Serapan Pupuk Urea di Jepara Sudah 41 Persen

-Advertisement-

Padahal, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara sudah menetapkan Status Tanggap Darurat DBD sejak tanggal 23 Februari lalu. Ia mengungkapkan saat ini jumlah pasien DBD di Rumah Sakit sebanyak 105 orang dan enam orang anak masih di rawat di Ruang Intensive Care Unit (ICU).

“Ini saya dapat laporan (PSN) kurang optimal, saya sudah perintahkan kepada DKK untuk melibatkan semua masyarakat termasuk kelompok PKK dan organisasi masyarakat agar PSN lebih digerakkan,” katanya pada Kamis (7/3/2024) di Depan Ruang Pringgitan, Pendopo Kabupaten Jepara.

Ia juga berpesan agar masyarakat juga tidak lupa melakukan gerakan 3M yaitu Mengubur, Menguras dan Menutup tempat-tempat yang rawan menjadi sarang jentik-jentik nyamuk.

Sedangkan untuk perkembangan kasus DBD, ia mengatakan bahwa jumlah pasien DBD yang meninggal masih sama yaitu 20 orang. Dengan rincian, 16 orang pasien anak-anak dan empat pasien dewasa.

“Jumlah pasien meninggal masih sama 20 orang, itu karena keterlambatan sebenarnya,” ungkapnya.

Lebih lanjut ia mengatakan sebagai upaya untuk menangani pasien DBD, Kabupaten Jepara mendapatkan bantuan Tes Antigen NS1 Dengue dari Dinas Kesehatan Provinsi. Bantuan alat tes tersebut saat ini juga sudah didistribusikan ke Puskesmas yang ada di Kabupaten Jepara.

Baca Juga: Jumlah Korban Meninggal DBD di Jepara Naik Jadi 20 Orang

Namun karena jumlahnya terbatas, dari Pemkab Jepara akan mengirimkan surat kembali kepada Dinas Kesehatan Provinsi untuk menambah bantuan alat tes tersebut.

“Kalau selam ini kan harus test laboratorium, trombositnya turun baru ketahuan kena DBD. Kalau ini nggak, dites langsung ketahuan kena DBD. Cuma ndak banyak, sifatnya terbatas, nanti saya mau kirim surat ke Dinas Kesehatan Provinsi supaya dikirim di drop lagi,” katanya.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER