BETANEWS.ID, KUDUS – Ali Sadikin (41) terlihat berenang mengarungi banjir di antara rumah yang teredam banjir di Desa/Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak dengan menggunakan ban. Pria tersebut tengkurap di atas ban dan menggunakan tangan sebagai dayung.
Setelah sampai tanggul Sungai Wulan, pria bertelanjang dada tersebut memperlihatkan kaus yang katanya baru diambil di rumahnya. Ali, begitu ia akrab disapa mengaku rumahnya kebanjiran setinggi tiga meter sejak Minggu dini hari (17/3/2024) pas waktu sahur.

“Saya dan keluarga terpaksa mendirikan tenda di tanggul Sungai Wulan. Sebab, saya dan keluarga sempat mau mengungsi di tempat pengungsian di Kudus, tapi ditolak,” ujar Ali di Tanggul Sungai Wulan, Senin (18/3/2024).
Baca juga: Update Banjir Karanganyar Demak; Mulai Surut Semeter, Jalan Pantura Masih Lumpuh
Dia mengatakan, alasan penolakan karena pengungsian sudah penuh. Karena keliling tak dapat pengungsian, ia dan keluarga pun dengan terpaksa mendirikan tenda di tanggul Sungai Wulan.
“Sebenarnya, kasihan anak dan istri saya harus tidur di tenda. Tiap malam tidak bisa tidur, apalagi saat hujan. Tapi bagaimana lagi tak ada tempat pengungsian,” bebernya.
Menurut Ali, banjir yang kedua ini lebih parah dibanding sebelumnya. Barang-barang elektronik dan barang berharga lainnya yang dipunya saat ini semua terendam banjir.
Baca juga: Tanggul Sungai Wulan Jebol Lagi, Korban Banjir Demak Kecewa dan Sebut Penambalan Gagal
“Saat banjir datang, kami sekeluarga fokus menyelamatkan diri. Pakaian saja saya bawa satu setel, dan ini tadi mengambil ke rumah malah sudah basah semua,” ungkapnya.
Hal berbeda diungkapkan korban banjir lainnya, Ramidi. Tetangga Ali itu memilih tinggal di tenda karena ingin menjaga rumahnya yang kebanjiran. Ia tinggal di tenda tersebut bersama anak laki-lakinya.
“Sementara istri saya mengungsi di Kudus bersama tetangga lainnya,” ujar Ramidi.

