31 C
Kudus
Minggu, Februari 15, 2026

Parno Hanya Bisa Makan Mi Mentah Karena Tak Kebagian Jatah Makan

Kisah hampir serupa juga dialami oleh Suparno. Tetangga Nurjanah ini juga enggan untuk mengungsi dan memilih tinggal di tenda yang didirikannya di tanggul, meski rumahnya terendam banjir dengan ketinggian 3 meter. Berbeda dengan Nurjanah yang tinggal di tenda bersama keluarga, Suparno tinggal di tenda sendirian.

“Saya mendirikan tenda sejak hari Kamis (8/2/2024) ketika tanggul jebol. Saya tempati sendiri untuk menjaga harta benda. Sementara istri dan anakku saya ungsikan,” ujarnya.

Selama tinggal di tenda, ia mengaku tidak bisa tidur. Sebab, banyak nyamuk dan udara malam terasa sangat dingin. Apalagi dirinya tidak memiliki selimut.

-Advertisement-

“Apalagi kalau hujan makin tidak bisa tidur. Karena terpal banyak yang bocor dan kedinginan,” bebernya.

Baca juga: Update Banjir Demak: Banjir Surut 50 Cm, Material Penambal Tanggul Sudah Tiba

Sementara untuk makan, ia mengandalkan bantuan. Tapi, selama ini tak ada bantuan didistribusikan ke tenda miliknya. Ketika butuh makan, penghuni tenda harus datang ke posko banjir di Jembatan Tanggulangin.

“Itu pun kalau nasi bungkusnya masih ada. Jika sudah habis dan gak kebagian ya kelaparan. Paling andalannya ngremes mi instan (mentah),” ungkapnya.

Dia berharap, air banjir tak naik lagi dan segera tuntas. Sehingga ia dan keluarganya bisa segera pulang ke rumah.

“Semoga tanggul Sungai Wulan yang jebol segera ditambal. Banjir segera tuntas dan kami bisa segera pulang ke rumah,” harapnya.

Editor: Suwoko

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER