BETANEWS.ID, KUDUS – Gerobak dorong bertuliskan Es Kuwut Khas Bali terlihat di sisi Jalan Ganesha, Desa Pasuruhan Lor, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Sirop warna-warni yang merupakan bahan utama dari es kuwut itu terlihat berjejer rapi. Di balik gerobak itu, tampak seorang perempuan muda tengah menunggu pembeli datang.
Perempuan bernama Ainur (19) itu baru beberapa bulan ini menjadi karyawan outlet es kuwut khas Bali itu. Berjualan merupakan jalannya untuk mencari rezeki setelah kedua orang tuanya meninggal.
Dulunya, ia sempat sekolah di salah satu SMK di Kudus. Namun, karena perekenomian keluarganya terjun bebas, dirinya memutuskan untuk berhenti sekolah.
Baca juga: Rintis Usaha dari Nol Usai Kena PHK, Kini Ghoni Sukses di Usaha Cuci Sepatu
“Tahun 2023 ambil kejar paket C setelah satu tahun berhenti sekolah, dulunya sempat sekolah di SMK jurusan kecantikan. Tetapi, karena tidak punya biaya akhirnya memutuskan untuk berhenti,” ungkap anak anak terakhir di keluarganya itu, Jumat (8/12/2024).
Jalan hidupnya memang penuh ujian. Berawal pada 2014, Ainur kecil kehilangan sosok sang ayah. Kemudian, saat dirinya masuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) sang ibu kemudian menyusul ayahnya. Sementara itu, dirinya saat ini tinggal bersama dengan kakak laki-lakinya.
Sedangkan, kakak perempuannya sudah menikah dan tinggal di rumah yang berbeda dengannya. Ainur mengatakan dirinya sudah sejak SMP hingga sekarang bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.
Baca juga: Rintis Usaha Sejak SMK, Putri Kini Hidup Mapan dan Bisa Kuliah dengan Biaya Sendiri
“Alhamdulillah dulu pas SMP mendapat bantuan dari sekolah sehingga bisa sampai lulus. Sebenarnya, saat sekolah di SMK mendapat bantuan dari guru. Tetapi, karena kakak merasa tidak enak dengan gurunya. Jadi, saya memilih untuk berhenti sekolah sekitar tahun 2021 lalu,” ucapnya.
Ainur menjelaskan, selama berhenti sekolah ia mengisi kekosongannya dengan berjualan gorengan di depan rumahnya, juga sempat bekerja di salon kecantikan dan pekerjaan lainnya. Meskipun keadaan ekonominya memburuk, tidak memadamkan rasa semangatnya untuk terus belajar dengan harapan nantinya mampu membangun usaha sendiri.
Editor: Ahmad Muhlisin

