BETANEWS.ID, JEPARA – Meski sudah dilakukan penutupan, tapi masih ada beberapa petambak udang di Pulau Karimunjawa yang tetap memaksa melakukan aktivitas budi daya. Maka dari itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara diminta untuk melakukan pengawasan, jangan sampai terjadi pencemaran kembali.
Permintaan ini terungkap dalam rapat koordinasi penanganan tambak udang Karimunjawa di ruang Vidcon Setda Jepara, Kamis,(7/12/2023). Rapat koordinasi tersebut dihadiri oleh perwakilan Kemenko Marves, John HP Tambun; Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah, BTN Karimunjawa, dan unsur terkait lainnya seperti Kodim, Polres, Kejaksaan Negeri, serta Camat Karimunjawa.
Seperti diketahui, pemerintah melalui Gakkum KLHK telah melakukan pemotongan pipa inlet tambak udang yang terbukti melakukan pencemaran. Namun demikian, masih ada beberapa pelaku tambak yang melakukan perlawanan.
Baca juga: Penutupan Tambak Udang Karimunjawa Dilakukan Bertahap
“Ini yang harus kita perhatikan. Jangan sampai mereka melakukan pencemaran kembali. Kondisi yang sudah kondusif ini harus tetap dijaga. Untuk itu saya minta Pemkab bersama unsur terkait tetap melakukan pengawasan” ujar John HP Tambun.
Menurutnya, Karimunjawa sudah ditentukan sebagai daerah prioritas untuk pariwisata. Ke depan pihaknya ingin tak ada lagi kasus lingkungan di sana. Usai semua ditutup, ia meminta agar dilakukan upaya pemulihan lokasi bekas tambak.
Penjabat Bupati Jepara melalui Asisten II Sekda Hery Yulianto, mengatakan, pengawasan tersebut nantinya dilakukan oleh jajaran Forkopimcam setempat. Selain memastikan tak lagi menebar benih, juga mengawasi proses pengeringan tambak saat panen terakhir.
“Nanti akan kami kirimkan ke Pak Camat, di dalamnya juga termasuk permohonan dari Pak Sekda untuk dilakukan pengecekan oleh Forkopimcam,” ujarnya.
Agus Mardiyanto dari Balai Taman Nasional, menyampaikan, semula tambak-tambak yang ada berjumlah 33 lokasi. Pascaoperasi penertiban awal November kemarin kini menyisakan 20 lokasi. Dari sisa tersebut, 13 di antaranya menyanggupi untuk melakukan penutupan, tapi menunggu sampai selesai masa panen.
Baca juga: Tambak Udang Ancam Pariwisata Karimunjawa yang Jadi Penghasilan Utama Warga
“Mereka minta kelonggaran sampai selesai panen udang. Kira-kira sekitar 3 tapi yang pasti tidak berbarengan. Ada yang sanggup di Februari, ada juga yang Maret bahkan ada yang April. Diperkirakan April bisa tuntas semua,” ujarnya.
Dijelaskan Agus, bahwa kesepakatan tersebut berasal dari pelaku tambak sendiri, dibuktikan dengan surat pernyataan bermeterai.

