Taman Kanak-kanak (TK) Aisyiyah Terpadu Birrul Walidain, Kudus, mencoba permainan lompat tali dari karet gelang. Sekolah yang berada di Jalan Wachid Hasyim, Kelurahan Demaan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, mengajak siswa-siswinya mengenal permainan tradisional yang telah lama ditinggalkan.
Untuk memulai permainan tradisional ini, para siswa diminta duduk melingkar sambil mendengarkan penjelasan dari guru. Raut kegembiraan tampak dari wajah semua siswa kala guru memulai memutarkan video animasi. Dalam video dijelaskan tentang permainan tradisional yang akan mereka mainkan, yaitu lompat tali.
Kami juga menyelipkan salah satu komponen computational thinking, yaitu algoritma. Dalam permainan tradisional ini kami mengajarkan urutan dalam bermain lompat tali dari awal permainan hingga akhir
Lelly Triyani | Guru Aisyiyah Terpadu Birrul Walidain
Usai video animasi diputar, guru mengambil karet gelang yang sudah dirangkai memanjang. Kemudian, semua siswa diminta untuk mengamati secara langsung karet gelang yang nantinya digunakan dalam permainan tersebut.
Baca juga: Jangan Senang Dulu, Ini Bahayanya Anak Bisa Membaca di Usia Dini (3)
Setelah melihat dan menyentuhnya secara langsung, guru menjelaskan sejumlah aturan saat bermain lompat tali. Aturan tersebut di antaranya, tidak boleh berebut, harus berhati-hati dan tidak boleh mengganggu temannya.
Namun, sebelum permainan lompat tali dimulai, para siswa diminta membuat sebuah tempat untuk mengilustrasikan di mana mereka hendak bermain lompat tali. Setelahnya, para siswa diminta merangkai karet gelang terlebih dahulu. Dan setelah itu barulah dipersilahkan untuk mencoba permainan lompat tali.

