BETANEWS.IS, KUDUS – Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Bidang Penerapan Iptek Universitas Muria Kudus 2023 telah sukses membuat produk bernama Hydroshroom. Produk tersebut memberikan solusi penyiraman dan pengontrolan suhu di sekitar kumbung jamur kepada Mitra Usaha Torang Jamur di Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus.
Tim Hydroshroom mengungkapkan jika Hydroshroom sebuah sistem untuk mempermudah penyiraman dan memantau kondisi suhu menggunakan sensor yang terintegrasi dengan aplikasi Blynk pada smartphone sehingga mempermudah proses monitoring penyiraman.
Baca Juga: Berikan ‘Kesejahteraan’ Spiritual, UMK Berangkatkan Umrah 25 Dosen dan Tendik
Tim Hydroshroom memanfaatkan teknologi Internet of Things (IoT) untuk meningkatkan hasil pertanian dengan efisiensi waktu yang maksimal dengan membuat sistem penyiraman jamur tiram putih otomatis untuk memaksimalkan kebutuhan air pada tanaman.
“Sistem yang kami buat untuk membantu permasalahan mitra dapat memantau kelembaban dan suhu di kumbung jamur yang dapat dikontrol melalui smartphone. Harapannya dapat memberikan solusi yang kreatif dan inovatif sehingga permasalahan mitra dapat terselesaikan,” ujarnya.
Potensi penerapan teknologi pertanian berbasis IoT memberikan dampak yang besar tehadap mitra usaha “Torang Jamur”, antara lain, lingkungan dalam kumbung jamur akan lebih terkontrol dan efisien, peningkatan produktivitas dengan membantu pemenuhan pangan yang bergizi tinggi di masyarakat

“Selain itu, dapat juga memajukan sektor pertanian khususnya pada sektor jamur tiram putih. Penerapan juga memberikan informasi dan pengetahuan baru tentang penerapan teknologi IoT dalam bidang pertanian,” imbuhnya.
Dengan Iot, petani jamur dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan serta dapat mengadopsi inovasi teknologi. Petani pun diharap dapat mengembangkan budidaya jamur dan memasuki pasar yang lebih luas.

Anggota tim PKM-PI adalah mahasiswa Teknik Informatika 2021, Sofiyan KusdariyantoSirojuddin Munir Alwi, dan Jihan Latifah, dan mahasiswa Teknik Informatika 2022, Mahir Mahendra, dan Zulfian Faqih Rahmanda.
Mahasiswa tersebut dibimbing oleh Alif Catur Murti, S.Kom., M.Kom. sebagai dosen pendamping.
Latar belakang yang mendasari kegiatan tersebut adalah permintaan pasar yang belum terpenuhi secara maksimal oleh Usaha Budidaya Jamur “Torang Jamur”.
Produksi jamur yang dihasilkan masih dibawah rata-rata yakni sekitar 50-60 kg jamur tiram putih pada awal masa produksi, sedangkan permintaan pasar mencapai 80 kg/hari.
Baca Juga: 457 Mahasiswa UMK Terima Beasiswa Senilai Rp2,96 Miliar
Deva Zailani, salah satu pemilik usaha Torang Jamur menjelaskan jika Produksi jamur yang masih dibawah rata-rata diakibatkan oleh proses penyiraman yang dilakukan masih menggunakan proses tradisional dengan menyemprotkan air disekitar kumbung.
“Selain itu, terdapat masalah dalam pemantauan kestabilan suhu dan kelembaban ruangan, sehingga dapat memengaruhi hasil panen jamur tiram putih,” ujarnya.
Editor: Haikal Rosyada

