BETANEWS.ID, DEMAK – Debit air di Bendung Gerak Kalijajar, Kadilangu, Demak terus mengalami penyusutan selama musim kemarau. Hal itu dirasakan sejak awal Juli hingga awal September ini.
Koordinator Lapangan Bendung Gerak Kalijajar, Muhammad Setiarno, mengatakan, penyusutan air di Bendung Gerak Kalijajar tahun ini lebih parah daripada musim kemarau sebelumnya. Kondisi itu, terjadi lantaran terdapat perbaikan saluran irigasi dari Rawa Pening.
“Air hilir itu sudah habis. Kemarin itu masih ada cadangan. Soalnya kemarin di bendung delapan kan belum ada pembangunan dan bisa mengaliri bendung gerak,” katanya, Senin (4/8/2023).
Baca juga: 62 Desa Terdampak Kekeringan, BPBD Demak Tetapkan Status Siaga Darurat
Bendungan dengan lebar 46 meter yang biasanya digunakan untuk mengairi persawahan, kini lebih difokuskan untuk kebutuhan masyarakat. Apabila diamati, air berada pada elevasi 240 meter dengan kondisi sungai dangkal.
“Kalau kemarau seperti ini tidak bisa ditentukan, tapi normalnya debit air 500 liter per detik untuk air baku PAM,” ujarnya.
“Pengukuran elevasi normal itu 410 meter. Jika melihat per hari ini 240 meter karena musim kemarau, jika diatas 410 meter pintu bendungan kami buka,” imbuhnya.
Baca juga: Penghasilan Pembudidaya Ikan Lele dan Nila di Demak Terjun Bebas Saat Kemarau
Akibat debit air yang menyusut, membuat delapan wilayah pengairan Bendung Gerak Kalijajar kesulitan mendapatkan air bersih. Bahkan sebagian permukiman warga, kondisi air berubah menjadi asin karena rob yang masuk ke aliran sungai.
“Kalau ini mengairi delapan wilayah Bintoro, Karangmlati, Mangunjiwan, Bonang, sampai Wedung. Sekarang di Bonang airnya sudah asin dan terpaksa disekat dengan karung sak,” sebutnya.
Jika kemarau terus berlanjut, Setiarno menyebut pengairian di Bendung Gerak Kalijajar tidak cukup untuk menampung kebutuhan masyarakat.
Editor: Ahmad Muhlisin

