Upah Minim, Regenerasi Ukir di Jepara Mandek

BETANEWS.ID, JEPARA – Semakin berkurangnya jumlah pengukir di Kota Ukir adalah masalah yang harus diselesaikan. Minimnya upah yang diterima disebut sebagai salah satu sebab kurang diminatinya pekerjaan itu.

Antonius Suhandoyo, Ketua Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) DPD Jepara Raya mengatakan, upah yang diterima pengukir sebulannya suda ada di UMR Jepara.

Baca Juga: Panen Raya Buat Harga Garam Anjlok, Pemerintah Diminta Tentukan HET

-Advertisement-

“Cuma yang bekerjanya secara borongan atau di bawa pulang itu yang secara upah sangat kecil. Kalau kata mereka itu ora cucok karo lek ngasah pak, sehingga angkanya tidak menarik bagi mereka (tenaga pengukir),” katanya pada Betanews.id, Jumat (18/8/2023).

Antonius ingin agar value dari tenaga pengukir tidak sekedar dipandang sebagai tenaga yang bisa mengukir tetapi bisa menjadi pekerja seni di bidang ukir. Sehingga mereka tidak sekedar mengukir dari desain yang sudah ada, tetapi bisa menciptakan desain baru yang bisa diterapkan di berbagai produk.

“Ketika hasil dari karya ukir ini tidak hanya sebatas sebagai part dari furniture tetapi bisa menjadi karya seni tentu ini akan meningkatkan value dari barang yang dihasilkan. Sehingga ke depan kita ingin mendorong anak-anak muda agar menghasilkan karya seni yang berasal dari kayu yang di ukir, sehingga harganya kan bisa tinggi,” katanya.

Sebab jika value dari tenaga pengukir masih dipandang dengan cara yang sama hanya sebatas bisa mengukir maka ke depan menurutnya tugas tersebut bisa digantikan oleh mesin Computer Numerical Control (CNC).

Sebab tidak bisa dipungkiri bahwa hadirnya teknologi tersebut juga bisa menjadi solusi untuk meningkatkan jumlah produksi sesuai dengan batas waktu yang diinginkan oleh konsumen.

“Saya mengibaratkannya seperti batik tulis dan batik cap. Batik cap yang dia butuh untuk ngejar pasar, ngejar cepet, bisa kita siasati dengan mesin CNC. Tetapi untuk karya ukir yang memang menonjolkan nilai seninya ini yang kemudian tetap dikejarkan oleh tenaga manusia,” ujarnya.

Baca Juga: Napak Tilas Desa Bulak yang Hilang Ditelan Abrasi di Jepara

Namun untuk mewujudkan hal tersebut juga di butuhkan upaya kerjasama dari pemerintah untuk mendorong agar seni ukir tetap bisa ada di Jepara. Misalnya dengan campaign yang menyuarakan agar dimanapun tempatnya di Jepara tetap ada kegiatan mengukir.

“Sebenarnya pengennya kayak gitu, ada kampanye yang dimana-mana itu ada orang mengukir. Sehingga kualitasnya nanti lama-lama bisa muncul. Seperti industri fashion di Banyuwangi itu karena pemerintahnya giat mengkampanyekan hal itu,” katanya.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER