BETANEWS.ID, SUKOHARJO – Pengamat Politik, Rocky Gerung menyebut lontaran kalimat ujaran yang terdengar kasar kepada Presiden Joko Widodo merupakan hal yang wajar. Hal tersebut ia utarakan saat menjadi pembicara dalam Mimbar Mahasiswa Cipta, Rasa, Karsa Pendidikan Indonesia di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Rabu (2/8/2023).
Pada kesempatan tersebut, menurut Rocky, penggambarannya yang spesifik pada kata ‘Ba’ merupakan kritikan dari warga negara kepada pimpinannya. Menurutnya, hal tersebut merupakan suatu hal yang biasa.
Baca Juga: DPRD Solo Dorong Pemkot Amankan 5 HGB Lahan di Benteng Vastenburg Sitaan Kejagung
“Hal yang biasa itu. Ucapan yang dibutuhkan oleh oposisi adalah ucapan secara jujur. Saya ucapkan secara jujur. Jadi apa yang diperkarakan kepada saya? Yang terjadi justru negara memanfaatkan kejengkelan publik yang dibuat-buat,” ujar Rocky.
Dalam pengutaraannya, Rocky menyoroti dua poin kinerja Presiden Jokowi yang mestinya menjadi fokus untuk dilakukan, namun gagal. Yakni soal pengentasan kemiskinan dan pendidikan di Tanah Air.
“Presiden diwajibkan konstitusi untuk hanya membuat dua program. Ini perintah konstitusi itu (yaitu) cerdaskan kehidupan bangsa, (dan) pelihara fakir miskin. IQ nasional kita tinggal 70 hari ini, drop terus. Artinya presiden gagal mencerdaskan kehidupan bangsa, ya bajingan namanya itu,” kata dia.
Termasuk pembangunan Ibu Kota Negara (IKN), penanganan stunting, hingga hutang negara. Mestinya, pembangunan IKN dapat dialihkan untuk masalah penanganan stunting di tanah air.
“Dia (Jokowi) gagal mencerdaskan bangsa, dia berbohong pada janji dia terhadap konstitusi. Dia gagal memelihara fakir miskin itu yang berlangsung. Daya beli kita habis. Tapi IKN masih mau diteruskan, kenapa enggak hemat. Kenapa IKN ndak pindah menjadi protein buat rahim ibu-ibu yang potensial mengalami stunting?,” ujarnya.
Kritik-kritik itu lalu ia simpulkan menjadi penggambaran ‘Ba‘ terhadap Presiden Jokowi. Ia juga menjelaskan bahwa kata ‘Ba*’ yang ia maksud, memiliki merupakan istlah yang memiliki arti tersendiri.
“Bagusing jiwo angen-angening pangeran. Yang bikin bapak ini susah namanya ‘bajingan’. Habis mau bilang apa istilahnya itu. Yang dalam bahasa Jawa sebetulnya ‘manusia yang disayang oleh Tuhan’, apa namanya, “bagus(ing) jiwo angen-angenan pangeran”. (suara tepuk tangan audiens). Disingkat jadi bajingan. Ya itu bajingan yg di dlm antropologi kita, kita kenal sebagai pekerjaan kusir dokar,” paparnya.
Baca Juga: Pemilihan Rektor Baru, UNS dan Kemendikbudristek Siapkan Skema Pemulihan MWA
Meski lontaran kalimatnya itu lalu menuai banyak kontroversi, bahkan sampai laporan kepolisian terhadapnya. Ditanya soal langkahnya selanjutnya, Rocky Gerung mengaku akan menunggu proses hukum tersebut.
“Ya itu hak buat melaporkan, jadi tunggu aja proses hukumnya kan. Gampang kan,” ungkapnya saat ditanyai awak media usai acara.
Editor: Haikal Rosyada

