BETANEWS.ID, PATI – Nasib kurang beruntung dialami Kartini di masa tuanya. Janda lanjut usia itu harus berjuang sendiri melawan kanker payudara akut yang dideritanya sejak dua tahun terakhir.
Warga Desa/Kecamatan Dukuhseti, Pati itu, kini tinggal di sebuah gubug berdinding anyaman bambu berukuran 3×5 meter dan tinggi 1,5 meter. Kartini hidup sebatang kara setelah suaminya meninggal lima tahun lalu.
Untuk tempat yang ditinggalinya saat ini, ia pun terpaksa mengeluarkan uang sewa Rp300 ribu per tahun di lahan milik tetangganya, karena tak punya lahan milik pribadi untuk bermukim.
Baca juga: Kisah Pilu Nenek Sebatang Kara di Margoyoso Pati yang Tinggal di Gubuk Reyot
“Kalau sewa lahan tinggal dua bulan lagi. Tak tahu nanti mau tinggal di mana,” ujar wanita berusia 63 tahun itu lirih, Kamis (10/8/2023).
Untuk bertahan hidup sehari-hari, Kartini hanya mengandalkan bantuan keponakan dan uluran tangan warga sekitar. Mengingat, saat ini ia tidak mampu lagi bekerja sebagai pembantu rumah tangga yang sebelumnya ia geluti.
Diakui, dua bulan terakhir, warga RT 3 RW 7 Dukuh Purbo, Desa Dukuhseti ini mengaku baru mendapat bantuan beras dari Program Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) yang disalurkan Bulog.
“Terima kasih ada relawan yang membantu memberikan kasur dan sembako. Kemarin juga dapat bantuan beras 10 kilo dua kali. Dulu juga sempat mendapatkan bantuan uang Rp600 ribu dari Kantor Pos, tapi sudah enam bulan ini mandeg,” kata Kartini.
Untuk melakukan perawatan dan pengobatan kanker yang dideritanya, ia mengaku enggan untuk membawanya ke rumah sakit. Meski dari petugas Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Dukuhseti sudah menawarinya untuk ke rumah sakit.
“Kalau di rumah sakit tidak ada yang menunggui. Jadi dulu memang saya tidak mau. Tapi kalau ada yang membantu selama perawatan saya manut saja. Selama ini, pengobatannya cuma saya baluri obat saja,” imbuh Kartini.
Baca juga: Aksi Perampasan Barang Milik ODGJ saat Tidur di Emperan Ruko di Pati Viral di Facebook
Petugas TKSK Dukuhseti, Ika Fitrianingrum, mengaku kesulitan mengajak Kartini berobat. Namun, ia akan berusaha untuk membawa perawatan kanker payudara ke rumah sakit agar tertangani dengan baik.
“Karena selama ini, perawatan kanker payudara hanya dilakukan secara mandiri. Itupun hanya dengan mengoles obat luar dan diberi bantalan kain. Takutnya ini tidak higienis dan bisa mengakibatkan sakit Mbah Kartini semakin parah. Apalagi saat ini ada benjolan juga di bagian kepala,” jelasnya.
Selanjutnya, Ika akan berkoordinasi dengan sejumlah pihak untuk melakukan penanganan terbaik bagi Kartini. Karena selain tidak mendapat bantuan sosial, Kartini juga tipikal orang yang enggan merepotkan orang lain.
“Prioritasnya memang penanganan sakit Mbah Kartini, dengan dirujuk ke RS Kariadi Semarang. Karena beliau juga masih terdaftar aktif di BPJS PBI. Setelah sakitnya sembuh terserah nanti beliau berkenan dibawa ke panti jompo. Namun ini kan tidak mudah, karena perlu pertimbangan,” pungkasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

