BETANEWS.ID, JEPARA – Tak lengkap rasanya jika berkunjung ke Pantai Semat, Desa Semat, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara, belum mencicipi gurihnya Sego Menir. Kuliner khas yang hanya dijual pada Jumat- Minggu.
Kuliner satu ini selalu membuat banyak orang berbondong-bondong ke Pantai Semat sepagi mungkin. Mengingat, sego menir ini biasanya langsung ludes hanya dalam dua jam saja sejak buka pada pukul 6.00 WIB.
Menurut sang penjual, Sukarsi (70), sego menir adalah kuliner berbahan beras menir atau beras berukuran lebih kecil dari ukuran beras pada umumnya, serta bentuk dari berasnya juga tidak lagi utuh.
Baca juga: Pantai Semat Jepara, Hanya Bayar Tiket saat Akhir Pekan
Beras tersebut kemudian dimasak dengan diberi tambahan santan serta garam sehingga memiliki cita rasa yang gurih. Sego menir kemudian disajikan dengan tambahan lauk pauk berupa kudapan atau urap, ikan asin, tempe gembus, dan sambal.
“Menir ini biasanya orang menyebut sebagai adiknya sego, karena ukuran berasnya lebih kecil. Dimakan sama urap sayur gori sama daun ketela. Kalau nggak ada ya daun pepaya. Dimakan sama kelapa aja juga enak, wong rasanya sudah gurih,” katanya pada Betanews.id, Sabtu (15/7/2023).
Sukarsi bercerita bahwa ia hanya berjualan sego menir di hari Jumat sampai Minggu. Sebab, pengunjung Pantai Semat menurutnya hanya ramai ketika hari tersebut.
“Ambil yang ramai, kalau di hari biasa-biasa itu sepi saya nggak mau, sudah capek. Jadinya cuma jualan di Jumat sampai Minggu,” katanya.
Meskipun pengunjung Pantai Semat hanya ramai di tiga hari tersebut, tetapi menurutnya hari Minggu menjadi hari yang paling ramai. Sehingga dalam sehari ia mampu menjual tiga bakol Sego Menir yang setara dengan 12 kilogram beras menir.
“Kalau Jumat itu dua bakol, kalau Sabtu cuma satu, nanti kalau Minggu tiga bakol jualannya, soale lebih ramai,” ujarnya.
Baca juga: Sarang Madu, Jajanan Tradisional yang Sering Nongol saat Ngunduh Mantu atau Sunatan
Harga sego menir buatannya juga terbilang murah, yakni cukup membayar Rp3 ribu per porsi sudah lengkap dengan beberapa lauk pauknya. Selain berjualan sego menir, Sukarsi juga menjual getok, gobet, dan tiwul yang semuanya dari hasil buatan tangannya sendiri.
Salah satu pembeli, Yuliana (44) bahkan rela berangkat dari rumahnya yang berada di Kecamatan Batealit hanya untuk menikmati gurihnya sego menir.
“Soalnya kalau di pantai-pantai lain itu nggak ada. Adanya cuma di sini. Kalau pecel, lontong itu kan banyak di pantai lain. Rasanya juga enak gurih,” katanya.
Editor: Ahmad Muhlisin

