BETANEWS.ID, PATI – Harga biji kopi di Kabupaten Pati mengalami kenaikan yang fantastis. Saat ini harganya menyentuh Rp48 ribu per kilogram. Menurut petani kopi asal Desa Tajungsari, Kecamatan Tlogowungu, Pati, Aris Susetyo (27), naiknya harga kopi tersebut dipengaruhi beberapa faktor, di antara produksi kopi turun dan harga pupuk yang mahal.
“Produktivitas kopi menurun dibandingkan tahun kemarin. Begitu juga dengan harga pupuk yang juga mahal. Satu lagi yaitu biaya tenaga kerja juga mengalami kenaikan,” ujar Aris, Rabu (14/6/2023).
Menurutnya, untuk penurunan produksi kopi dipengaruhi cuaca yang dua tahun terakhir yang tidak menentu. Kerap kali diterpa hujan dan angin kencang, sehingga membuat bunga-bunga kopi berguguran.
Baca juga: Harga Kopi Muria di Pati Makin Menggila, Tembus Rp48 Ribu per Kilogram
Dengan kondisi itu, akhirnya bunga yang menjadi biji kopi malah jauh lebih sedikit ketimbang beberapa tahun yang lalu. Padahal, sebenarnya saat ini untuk di Kabupaten Pati secara umum sudah masa panen raya kopi.
“Meski begitu, untuk stok kopi di wilayah Pati justru menipis. Soalnya, setelah petani panen itu ada pengepul yang menerima cherry bean atau biji yang masih basah, diambil langsung dengan harga yang tinggi juga,” ungkapnya.
Baca juga: Keistimewaan Kopi dari Lereng Muria yang Sukar Ditemui di Tempat Lain
Dengan begitu, untuk memenuhi kebutuhan di internal atau lokal Pati juga cukup kewalahan sebab, barangnya menipis. Ia pun menyebut, naiknya harga kopi di Kabupaten Pati ini terhitung cepat. Sebab, dalam kurun waktu satu bulan ini saja, sudah terjadi kenaikan hingga empat kali.
“Kalau tahun kemarin harganya Rp32 ribu per kilogram. Itu naiknya cepet banget. Bulan ini saja, dari Rp37 ribu ke Rp38 ribu, terus Rp42 ribu dan ini sudah Rp48 sekilonya untuk grade terbaik yaitu petik merah,” pungkasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

