BETANEWS.ID, DEMAK – Pendangkalan atau sedimentasi di aliran sungai Morodemak membuat para nelayan susah untuk melaut. Akibatnya saat air laut surut, mereka harus mencari cara agar bisa melaut.
Sekretaris Paguyuban Nelayan Gaban, Aji Muska (40) mengatakan, yang menjadi kendala para nelayan melaut karena sedimentasi pasir di area aliran sungai yang cukup tinggi. Ditambah lagi, dengan banyaknya rumah-rumah yang dibangun di dekat sungai.
Baca Juga: Pengerukan Pasir Laut Morodemak Jadi Buah Bibir, DKP Demak Buka Suara
“Banyak bangunan atau rumah yang dibangun di pinggir sungai, itu mengganggu kita. Mempersempit sungai juga, misalkan (kapal) kita bersandar di situ otomatis aliran terhambat,” katanya pada betanews.id di TPI Morodemak, Desa Purworejo, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak, Kamis (22/6/2023).
Aliran sungai penghubung tiga desa, yakni Purworejo, Morodemak, dan Margolinduk memiliki panjang sekitar 2 kilometer. Area tersebut biasanya digunakan para nelayan untuk menyandarkan kapal-kapal mereka.
Mengenai pengerukan pasir di bibir pantai Morodemak, Aji mengaku tidak setuju jika digunakan untuk pembangunan tol tanggul laut. Ia justru mendukung wacana tersebut, jika diperuntukkan membantu nelayan membuka jalur ke laut dan menertibkan aliran sungai.
“Justru yang menjadi kendala itu di dalam sudah dangkal, bukan di luarnya (pantai) tapi di dalamnya (sungai),” terangnya.
Baca Juga: Aktivis Lingkungan Soroti Wacana Pengerukan Pasir Laut Morodemak
Ia berharap pemerintah daerah dapat membantu para nelayan di wilayah tridesa. Terutama melakukan penertiban sungai, untuk mempermudah kapal menuju ke laut.
“Saya berharap pemerintah bisa membantu kami melakukan penertiban di aliran sungai. Karena itu sangat menggangu ketika kapal bersandar,” pungkasnya.
Editor: Haikal Rosyada

