Nonton film di gedung bioskop memiliki kesan tersendiri bagi penikmat film. Kemajuan teknologi bioskop mengalami puncak kejayaan di tahun 2000-an. Bioskop dari konsep Cinema 21 bermetaforsa menjadi XXI, The Premiere, hingga IMAX menjadi nostalgia akan kejayaan dunia pertunjukan film layar lebar.
Di era digital ini, menonton film di gedung bioskop mulai banyak ditinggalkan. Tak lain menurunnya jumlah penonton bioskop karena dunia internet yang lebih kompleks menawarkan pemutaran film melalui beberapa aplikasi. Meski hingga kini gedung bioskop masih bertahan dan belum ditinggalkan, sejarah perkembangan bioskop menjadi menarik untuk diulik.
Di Rumah Po Han, Kota Lama, Semarang Tengah, ditampilkan berderet pernik-pernik perfilman dalam sebuah pameran berjudul “Halo Bioskop?”. Pameran yang digelar sejak 15 April lalu, akan berakhir 7 Mei mendatang. Di pameran ini terpajang beberapa proyektor film kuno yang pernah digunakan gedung-gedung bioskop tempo dulu. Lengkap pula dipajang beberapa pita film dan beberapa judul film lawas yang masih terbungkus boks film lawasan.
Baca juga: Ada yang Baru Nih di Museum Kota Lama Semarang, Hologram Warak Ngendok
Ada pula proyektor film yang ditempatkan di sebuah ruang berhadapan dengan layar putih. Ruang ini digunakan untuk pemutaran film lawasan secara berkala di sela-sela pameran yang biasanya disertai diskusi tentang film. Di ruang pemutaran film itu, terdapat proyektor foto slide yang digunakan sebagai menampilkan layar tunggu dan sponsor yang biasanya ditayangkan sebelum film dimulai.
Tak hanya itu, di pameran “Halo Bioskop?” itu juga ditampilkan alat-alat pemutar film rumahan. Mulai dari Betamax video cassette player, VHS video cassette player, laser disk, VCD player, hingga DVD player. Semuanya lengkap materi film baik dalam bentuk kaset maupun piringan cakram.
Di sepanjang tembok ruang pameran pameran terpampang artikel-artikel dan foto-foto sejarah bioskop dari tahun 1800-an hingga sekarang. Tak hanya itu, sebagian tembok terpajang pula foto-foto poster dan baliho film bioskop dari yang semula dilukis dengan tangan, hingga kini digantikan dengan proses digital.
Deby, pengunjung “Halo Bioskop?” mengungkapkan, meski ia mengaku gemar menonton film di bioskop, sekarang dirinya lebih banyak mengakses film lewat internet.
“Idealnya nonton film ya di bioskop, tapi gimana ya, kalau di bioskop harus pakai bayar tiket, dan harus menyempatkan juga,” tutur Deby.
Adjie Noegraha, Ketua Panitia pameran “Halo Bioskop?” menceritakan, awalnya ia dan rekan-rekannya ingin membuat pameran ini sejalan dengan Hari Film Nasional pada 30 Maret. Namun karena persiapan yang kurang, mereka membatalkan pamerannya.
Namun tekad yang kuat, terutama karena alasan sentimentil, Adjie berhasil mewujudkan pameran di gedung yang masuk cagar budaya itu. Tak lain adalah sosok almarhum Agus Maladi Irianto, budayawan dan seniman Semarang, karibnya.
Baca juga: Foto-Foto Ciamik dan Penuh Makna dari 14 Daerah Dipamerkan di Kota Lama Semarang
“Ini ada alasan sentimentil. Karena dulu Mas Agus Maladi menggagas gedung milik Pak Po Han ini sebagai gedung bioskop,” kisah Adjie.
Dalam mewujudkan gagasan Agus Maladi itu, Adjie dan sang pemilik gedung yang juga kolektor barang-barang kuno tersebut menjalin kerja sama dalam kepentingan yang sama. Adjie yang merupakan Pembina organisasi sosial Anantaka mengambil bagian merenovasi sebagian kecil gedung Rumah Po Han, sedangkan Po Han memamerkan koleksinya.
Editor: Suwoko

