BETANEWS.ID, DEMAK – Angka kasus stunting di Kabupaten Demak setiap tahunnya mengalami penurunan secara drastis. Hal itu diungkapkan Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Demak Sri Pudji Astuti, Rabu (17/5/2023).
Astuti mengatakan, kasus stunting di Demak tiap tahun mengalami penurunan. Pada 2021 sebesar 4.215 balita atau 4,34 persen, 2022 sebesar 2.853 balita atau 2,99 persen, dan pada Februari 2023 sebesar 2.474 balita atau 2,61 persen. Sedangkan Berdasar SSGI (Survey Status Gizi Indonesia) juga mengalami penurunan, daritahun 2021 sebesar 25,5 persen menjadi 16,2 persen di 2022.
“Untuk angka balita stunting Februari 2023 adalah 2.474 balita dengan presentasi 2,61 dari total balita 94.899,” katanya saat ditemui di kantor DKK, Jalan Sultan Hadiwijaya No 44, Kenep, Mangunjiwan, Demak.
Baca juga: Ingat Bun, Anak Stunting Berisiko Susah Dapat Pekerjaan
Menurut Astuti, kasus stunting di Kabupaten Demak tertinggi berada di Kecamatan Guntur, dengan jumlah 318 balita atau 4,47 persen. Kemudian disusul Sayung dan Gajah.
“Jumlah stunting di Kecamatan Sayung sebanyak 299 balita atau 3,60 persen, dan di Kecamatan Gajah sebanyak 293 balita atau 3,60 persen,” sebutnya.
Terdapat berbagai faktor yang menyebabkan terjadinya stunting pada balita di wilayah kabupaten Demak, di antaranya pola asuh yang kurang tepat, riwayat gizi ibu hamil yang kurang baik, sanitasi, lingkungan, dan sosial ekonomi,” terangnya.
Baca juga: Intervensi Gizi Spesifik dan Sensitif Jadi Poin Penting Penanganan Stunting
Untuk menekan melonjaknya stunting di Demak, pihaknya telah melakukan berbagai upaya pencegahan, seperti gerakan minum Tablet Tambah Darah (TTD) bersama untuk remaja putri setiap Rabu, skrining anemia bagi rematri, penyiapan status gizi pada calon pengantin melalui penyuluh KUA, pendampingan pada ibu hamil risiko tinggi dan balita dengan gangguan gizi (stunting) di rumah fizi, literasi CME bagi tenaga kesehatan dan 1.000 kader kesehatan, pelatihan konseling Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) bagi tenaga kesehatan, orientasi PMBA bagi kader kesehatan, pembentukan Kelompok Pendukung ASI (KP-ASI) di wilayah lokus (Desa), serta rembug stunting dimulai dari tingkat kabupaten, kecamatan, dan desa.
“Upaya juga bisa dilakukan masyarakat untuk mendukung program pencegahan dan penurunan stunting, di antaranya menyiapkan status gizi calon ibu sejak remaja, pemberdayaan ibu hamil, memberikan ASI Eksklusif kepada buah hatinya, memberikan MP-ASI yang tepat dan sesuai, serta pola asuh yang tepat,” jelasnya.
Baca juga: Mengenal Rumah Pelita, Day Care Anak Stunting di Semarang yang Punya Fasilitas Oke
Meskipun dari data SSGI Kabupaten Demak sudah mencapai 16,2 persen, dan sudah ada di bawah target dari Jawa Tengah 17,96 persen, ia berharap prestasi itu tetap terjaga.
“Bagi kami, Dinas Kesehatan khususnya, penurunan angka stunting itu penting. Namun lebih penting lagi, konvergensi dan intervensi-intervensi yang dilakukan dalam pencegahan dan penanganan stunting tersebut. Jadi kami lebih fokus kepada proses dan upaya-upaya yang dilakukan namun tujuannya tetap untuk menurunkan angka stunting di Kabupaten Demak,” pungkasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

