BETANEWS.ID, KUDUS – Suwarno siang itu tampak senang karena beberapa pengendara sepeda motor maupun mobil menghentikan kendaraannya tepat di depan lapak jasa penukaran uang receh muiliknya di area Alun-alun Kudus. Beberapa warga itu mengeluarkan uang dari dompetnya yang kemudian ditukarkan dengan uang receh.
Menurut Suwarno, awal hingag pertengahan Ramadan seperti ini jumlah transaksi penukaran uang memang belum begitu banyak. Namun, jika sudah memasuski H-7 Lebaran, transaksi penukaran uang bisa capai puluhan juta rupiah sehari. Hal itu dikarenakan banyaknya warga Kudus yang membutuhkan uang receh untuk dibagikan ke sanak saudaranya saat Lebaran.
“Kalau saat ini masih belum begitu banyak, tapi di syukuri aja. Kalau mendekati lebaran kurang beberapa hari itu sudah mulai ramai dan jumlah transaksi penukaran uang itu bisa sampai Rp20 juta, bahkan sampai Rp25 juta,” beber Suwarno kepada Betanews.id, Senin (3/4/2023).
Baca juga: Jasa Penukaran Uang Receh Baru di Kudus Mulai Marak
Ia menuturkan, uang receh mulai dari Rp2 ribu sampai Rp20 ribu yang tersedia di lapaknya itu biasanya laku keras, bahkan sampai tidak tersisa. Menurutnya untuk komisi yang didapatkannya, untuk saat ini ia hanya mengambil 7,5 persen per Rp100 ribunya. Namun jika sudah mau mendekati lebaran komisi tersebut biasanya berubah.
“Seperti tahun-tahun sebelumnya itu kalau kurang sehari menjelang lebaran itu komisi sudah menjadi 15 persen. Karena apa, uang receh carinya juga sudah sulit, kemudian saya ngambil dari pengepul juga komisinya sudah naik. Jadi komisi bisa sentuh 15 persen per Rp 100 ribunya,” tutur warga Pedurungan, Semarang tersebut.
Baca juga: Hasilnya Lumayan, Suwarno Pilih Tinggalkan Pekerjaan Harian Demi Jadi Penukar Uang
Pria berurumur 59 tahun itu sudah 15 tahun menjadi penyedia penukaran uang receh di Kudus. Momen seperti ini tidak bisa ia tinggalkan meski kesehariannya adalah pedagang warung makan dan mempunyai usaha veleg mobil. Menurutnya, hasil dari jasa penukaran uang itu lumayan dan banyak, sehingga bisa untuk hidup sehari-hari.
“Ya karena lumayan hasilnya mas. Kalau saat ini jualan warung makan juga tidak ada yang beli, mending ya seperti ini,” ungkapnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

